Analisis Jurnal Ivan Illich
Gagasan Pendidikan Ivan Illich
(Sebuah Analisis Kritis)
M. Arfan Mu’ammar1
Abstrak
Pendidikan yang selama ini dianggap sebagai pahlawan
dalam menegakkan kebenaran, pahlawan dalam membangun
bangsa. Ternyata hanyalah sebuah topeng untuk mengelabui para
konsumennya. Dengan segala semboyan atas nama pembangunan
dan perkembangan anak didik, mereka para praktisi pendidikan
mulai melebarkan sayapnya, terbukti dengan semakin menjamurnya
persekolahan dimana-mana, dan sekolah, kini dianggap
sebagai jalan hidup bagi manusia modern. Mereka yang tidak
sekolah berarti mereka terbelakang. Padahal memperoleh ilmu
pengetahuan tidak mesti melalui sekolah.
Sehingga tidak heran jika model pendidikan seperti ini
menuai kritikan dari berbagai kalangan, diantaranya adalah Ivan
Illich. Gagasannya untuk menggulingkan sekolah dan menyadarkan
masyarakat akan kebohongan ini, perlu kiranya diberi
dukungan dari berbagai pihak. Walaupun beberapa gagasannya
tersebut perlu juga di telaah secara kritis dari sudut pandang
Islam. Karena ternyata Ivan Illich seakan mengesampingkan
etika dalam tujuan pendidikan, yang berakibat pada kebebasan
tak terbelenggu dan liar. Sehingga muncul ungkapan “ karena
kebebasanlah siswa berpikir”. Disamping itu, penilaian Ivan Illich
terhadap masyarakat hanya sampai pada sisi materialnya saja.
Padahal di dalam Islam, materi bukanlah ukuran kebaikan
seorang.
Kata Kunci: Etika, kebebasan, demokrasi, persekolahan.
1Penulis adalah salah satu pengkaji di Centre for Islamic and Occidental Studies
di Institut Studi Islam Darussalam dalam bidang Pendidikan Islam dan Sejarah Peradaban,
Sekaligus menjadi Staff di tempat yang sama. Mahasiswa Fakultas Tarbiyah ISID Siman.
Gagasan Pendidikan Ivan Illich
142 At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, karena dengan pendidikan manusia akan
mengalami sebuah perubahan yaitu perubahan dari tidak tahu menjadi
tahu. Dan lebih dari itu, dengan pendidikan manusia akan sangat tinggi
derajatnya2. Dengan demikian, Pendidikan merupakan upaya mulia
dalam rangka menghilangkan kebodohan dan memanusiakan manusia.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imanuel Kant bahwa manusia hanya
dapat menjadi manusia karena pendidikan. “Man Can Become Man
Through Education Only” 3.
Akan tetapi tujuan pendidikan tersebut, saat ini telah jauh dari
harapan. Seperti yang terjadi di negara-negara berkembang, bahkan
negara-negara maju sekalipun, semisal di Amerika Latin. Pendidikan
hanya di jadikan sebagai komoditi yang di jajakan4. Sedangkan guru
adalah subjek aktif, dan anak didik adalah objek pasif yang penurut.
Pendidikan akhirnya bersifat negatif di mana guru memberikan
informasi yang harus ditelan, serta wajib diingat dan dihafalkan.
Kemampuan pendidikan seperti ini, akan mengurangi atau
menghapus daya kreasi dan kemampuan kritis pada siswa. Matinya
sebuah kreasi dan kreativitas anak didik tersebut, akan membuatnya
lamban untuk berkembang. Sehingga membuat siswa hanya sebagai
penakut, pasif, serta jauh dari pemikiran kritis.
Maka tidak heran, jika pendidikan semacam itu menuai banyak
kritikan, sebut saja diantaranya adalah Ivan Illich. Walaupun masih
banyak para pakar pendidikan lainnya yang jalan pikirannya berkaitan
dengan kritik Ivan Illich seperti Paulo Freire5, Carl Rogers6, Abraham
2Seperti yang tertulis dalam al-Qur’an, bahwa Allah akan mengangkat derajat
orang-orang yang beriman dan orang-orang yang menimba ilmu beberapa derajat. Lihat
Q.S. al-Mujadilah 58: 11.
3 Paul Monroe (ed), Encyclopaedia of Psychology of Education .( New Delhi 110002.
India, Published By: Mrs. Rani Kapoor for Cosmos Publications Div.of Genesis Publishing
PLt. Ltd. 24 –B, Ansari Road, Darya Ganji. 2002) h.282.
4 Dalam Istilah lain. The Banking Concept of Education. Lihat. Paulo Freire, Pedagogy
of The Oppressed. (New York. Penguin Books. 1971).
5 Paulo Freire, The Pedagogy of The Oppressed. (New york: Herder and Herder.
1972)
6 Carl Rogers, On Becoming A Person. (Boston: Houghton Mifflin. 1972)
M. Arfan Mu’ammar
At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428 143
Maslow7, B.F Skinner8, Jerome Bruner9, dan Malcom S. Knowles10.
Akan tetapi, tulisan ini hanya akan mencoba mengkaji secara
kritis, sedikit pemikiran dan gagasan Ivan Illich dalam dunia pendidikan.
Khususnya pendidikan yang berlangsung di Amerika Latin saat itu,
dimana Ivan Illich hidup.
Biografi Singkat Ivan Illich
Ivan Illich lahir di Wina sebuah kota yang menjadi ibu kota
negara Austria pada tahun 1926, tidak diketahui tanggal lahirnya. Sejak
kecil ia mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan sejak
kecil pula ia mendapatkan pelajaran dan didikan dari orang tuanya, ia
termasuk anak yang cerdas.
Setelah lulus dari sekolah tingkat pertama, kemudian Ivan Illich
melanjutkan pendidikannya di Universitas Gregoriana, Roma, Italia.
Di universitas itu Ivan Illich belajar tentang teologi. Setelah mendapatkan
gelar sarjananya di Universitas Gregoriana, Roma, Italia, kemudian ia
memutuskan untuk sekolah lagi di Universitas Salzburg. Di Universitas
tersebut ia mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu sejarah, dan tidak
lama kemudian ia diangkat atau ditahbiskan sebagai imam gereja katolik
Roma.
Pada tahun 1951 ia telah mendarat di kota New York, Amerika
Serikat. Karena waktu itu kota New York telah dipenuhi oleh imigranimigran
dari negara Irlandia dan Puerto Rico maka sehari-hariannya
hidupnya ia habiskan dengan memberikan bimbingan baik bimbingan
pendidikan maupun bimbingan keagamaan dan ia juga berkarya di
tengah-tengah imigran tersebut.
Kemudian ia pergi ke Mexico, dan pada tahun 1956-1969 ia
menjadi salah satu pendiri Centre For Intercultural Documentation
(CIDOC) di Cuernavara, Mexico, dan sejak tahun 1964-1976 ia
mendapatkan suatu penghormatan untuk memimpin seminar-seminar
7 Abraham Maslow, Motivation and Personality. (New York. 1970)
8 B. F Skinner, The Technology of teaching. (New York: Appleton Century Croft.
1968)
9 Jerome S Burner, Toward Teory of Instruction. .(Cambrige: Harvard University
Press)
10 Malcoms Knowles, The Adult Learner: A Neglected Species. (Huston: Gulf
Publishing Co. 1973)
Gagasan Pendidikan Ivan Illich
144 At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428
penelitian tentang Institusional Alternative In a Technological Society
dengan memfokuskan studi-studi tentang Amerika Latin.
Komitmennya pada humanisme radikal menjadikan ia salah
seorang hero bagi kaum katolik kiri. Akibat sepak terjangnya banyak
tidak dimengerti oleh hirarki gereja dan lembaga-lembaga konvensional
serta ide-ide yang berlaku tentang apa itu keutamaan sosial.
Sejak tahun 1981, Ivan Illich menjadi profesor tamu di Gottingen
dan berlin di Jerman. Dan akhir tahun 1982 ia mengajar di Berkeley,
California, Amerika Serikat. 11
Ivan Illich yang dilahirkan di Wina pada tahun 1926 adalah tokoh
pendidikan yang sangat kontroversial dengan ide-ide pembebasannya
tentang persekolahan, sehingga dikelompokkan sebagai pemikir
“humanis radikal”. Ia termasuk orang yang mempunyai kepribadian yang
langka, kegembiraan yang besar, wawasan luas, dan daya cipta yang subur,
seluruh pemikirannya didasarkan pada perhatiannya terhadap
penyempurnaan manusia secara fisik, secara rohaniah, dan secara
intelektual 12. Dan Ivan Illich meninggal pada tanggal 2 Desember 2002.
Semasa hidupnya, ia sempat mengeluarkan karyanya dalam
bentuk buku-buku ilmiah, diantara buku-buku yang sudah terbit di
Indonesia adalah:
1. Celebration of Awareness (diterbitkan oleh Ikon Teralitera pada
tahun 2002 dengan judul Perayaan Kesadaran).
2. Medical Nemesis (diterbitkan oleh Yayasan Obor Nasional pada
tahun 1995 dengan judul Batas-batas Pengobatan).
3. Deschooling Society (diterbitkan oleh Obor Nasional pada tahun
2000 dengan judul Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah).
4. Vernacular Gender (diterbitkan oleh Pustaka Pelajar pada tahun 1998
dengan judul Matinya Gender).13
11 Ivan Illich, Deschooling Society (Harmondsworth: Penguin. 116 pages. First
published by Harper and Row 1971; now republished by Marion Boyars). Lihat Juga.
Ivan Illich, Energy and Equity (London: Calder & Boyars, 1974. Created 95-06-11, last
modified 95-06-11 by Ira Woodhead / Frank Keller. http://www.infed.org/thinkers/etillic.
htm. Last updated: June 13, 2006.
12 Ivan Illich, Celebration of Awareness A Call for Institutional Revolution. (Patheon
Books. 1969). terj. Indonesia oleh: Saut Pasaribu. Perayaan Kesadaran, (Yogyakarta:
Ikon Teralitera. 2002) h. ix
13 Ivan Illich, Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah (Jakarta: Obor Nasional
2000) h. 165.
M. Arfan Mu’ammar
At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428 145
Sebelum beranjak ke pembahasan tentang gagasan-gagasan Ivan
Illich dalam pendidikan, ada baiknya jika kita sedikit melihat kondisi
objektif pendidikan di Amerika Latin saat itu.
Kondisi Objektif Pendidikan di Amerika Latin
Menurut Illich, pendidikan yang berlangsung di Amerika Latin
saat itu tidak mampu menjawab bahkan menyelesaikan persoalan yang
dihadapi oleh siswa. Sekolah hanya mendorong kepada pengasingan
siswa dari hidup. Sekolah hanya memaksa semua anak untuk memanjat
tangga pendidikan yang tidak berujung dan tidak meningkatkan mutu,
melainkan hanya menguntungkan individu-individu yang sudah
mengawali pemanjatan itu sejak dini. Pengajaran yang diwajibkan di
sekolah membunuh kehendak banyak orang untuk belajar mandiri,
pengetahuan dilakukan ibarat komoditi, dikemas-kemas dan dijajakan.14
Sehingga Sistem pendidikan yang ada waktu itu dapat diandaikan
sebagai sebuah bank (banking concept of education) dimana pelajar
diberi ilmu pengetahuan agar ia kelak dapat mendapatkan hasil dengan
lipat ganda. Jadi, guru adalah subjek aktif, sedangkan anak didik adalah
objek pasif yang penurut. Pendidikan akhirnya bersifat negatif di mana
guru memberikan informasi yang harus ditelan yang wajib diingat dan
dihafalkan.15
Padahal, Amerika latin saat itu telah memutuskan untuk
mengembangkan sekolah. Akan tetapi anehnya, ditiap-tiap sekolah itu
juga di bangun benih-benih korupsi kelembagaan, dan ini semua atas
nama pertumbuhan. Sebagaimana yang di ungkapkannya:
Latin America has decided to school itself into development. This
decision results in the production of homemade inferiority. With
every school that is built, another seed of institutional corruption is
planted, and this is in the name of growth16.
14 Ivan Illich dkk, Menggugat Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999) h.
517.
15 Paulo Freire, Politik Pendidikan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999) h. x.
16 Ivan Illich, Celebration of Awareness A Consitution for Cultural Revolution (London:
Calder & Boyas, 1971. Created 95-08-02, last modified 95-08-02 by Ira Woodhead /
Frank Keller. Lihat. http://www.infed.org/thinkers/et-illic.htm. Last updated: June 13,
2006.
Gagasan Pendidikan Ivan Illich
146 At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428
Penanaman benih-benih korupsi kelembagaan ini, secara tidak
langsung telah terbangun di dalamnya sebuah jembatan sempit untuk
menyeberangi jurang sosial yang semakin lebar, kesempatan untuk
mendapatkan pendidikan hanya di peroleh bagi kalangan-kalangan elit,
yang kaya semakin kaya dan pintar, sedang yang miskin semakin miskin
dan bodoh. Hingga akhirnya, sekolahpun seakan acuh tak acuh terhadap
orang yang gagal untuk menanggung kesalahan atas keterpinggirannya.17
Sistem pendidikan yang tergambar di atas, secara alami telah
menciptakan sebuah kebiasaan-kebiasaan yang tidak diharapkan oleh
pendidikan saat ini. Diantara Kebiasaan-kebiasaan yang berlangsung di
sekolah waktu itu adalah:
1. Guru mengajar, siswa diajar.
2. Guru tahu segalanya, siswa tidak tahu segalanya.
3. Guru berpikir, siswa dipikirkan.
4. Guru bicara, siswa mendengarkan.
5. Guru mengatur, siswa diatur.
6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, siswa menuruti.
7. Guru bertindak, siswa membayangkan bagaimana bertindak sesuai
dengan tindakan guru.
8. Guru memilih apa yang diajarkan, siswa menyesuaikan diri.
9. Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dan wewenang
profesionalismenya, dan mempertentangkannya dengan kebebasan
siswa-siswa.
10. Guru adalah subjek proses belajar, siswa adalah objeknya.18
Dari pemaparan di atas, sedikit kita akan bisa membuka mata,
bagaimana potret pendidikan yang berlangsung di Amerika latin waktu
Ivan Illich hidup. Dimana sekolah telah bergeser dari nilai-nilai
keluhurannya, sekolah dijadikan ruang komoditi, pengetahuan dikemaskemas
dan dijajakan, sekolah dijadikan tempat dehumanisasi yaitu proses
penurunan martabat manusia. Maka wajar jika kemudian Ivan Illich
mengkritik habis-habisan model pendidikan yang dikembangkan di
sekolah-sekolah yang terdapat di Amerika latin. Maka, menurutnya
17 Ivan Illich, Celebration of Awareness: A Consitution for Cultural Revolution (London:
Calder & Boyas, 1971) terj. Indonesia Oleh: Saut Pasaribu, Perayaan Kesadaran
(Yogyakarta: Ikon Teralitera. h. 126.
18 Ibid. h. xi.
M. Arfan Mu’ammar
At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428 147
sekolah harus ditiadakan, dia yakin bahwa tujuan peniadaan sekolah
dalam masyarakat akan menjamin siswa dapat memperoleh kebebasan
dalam belajar.
Walaupun demikian, makalah ini tidak hanya melihat gagasan
Illich dalam sudut pandang Islam, sehingga membuat konstruksi sepihak.
Akan tetapi gagasan ini juga dilirik dari sudut pandang lain, yang
memungkinkan gagasannya dapat dilihat secara lebih kritis lagi.
Tujuan Pendidikan
Untuk mencapai hal yang maksimal dan yang diinginkan dalam
out put di dunia pendidikan, perlu rasanya untuk sejenak melihat dan
merumuskan tujuan-tujuan dari pendidikan itu sendiri.
Menurut Illich sistem pendidikan yang baik dan membebaskan
harus mempunyai 3 (tiga) tujuan, yaitu:
1. Pendidikan harus memberi kesempatan kepada semua orang untuk
bebas dan mudah memperoleh sumber belajar pada setiap saat.
2. Pendidikan harus mengizinkan semua orang yang ingin memberikan
pengetahuan mereka kepada orang lain dengan mudah, demikian
pula bagi orang yang ingin mendapatkannya.
3. Menjamin tersedianya masukan umum yang berkenaan dengan
pendidikan.19
Dari tiga tujuan di atas dapat disimpulkan bahwa, tujuan
pendidikan bagi Illich adalah terjaminnya kebebasan seseorang untuk
memberikan Ilmu dan mendapatkan Ilmu. Karena memperoleh
pendidikan dan Ilmu adalah hak dari setiap warga negara dimanapun.
Hak dan kewajiban dalam menuntut ilmu sebagaimana yang
diharap Illich di atas, agaknya sejalan dengan Islam, karena Islam sendiri
telah mewajibkan hambanya untuk menuntut ilmu Tholabul Ilmi
Faridhotun ‘Ala Kulli Muslimin Wa Muslimatin (menuntut ilmu adalah
kewajiban bagi seorang muslim laki-laki maupun perempuan).
Akan tetapi, Illich tidak mendefinisikan bahwa tujuan pendidikan
sebenarnya adalah untuk membentuk “Good and Righteous Man” yaitu
manusia yang bermoral, sebagaimana yang terdapat dalam Islam, bahwa
tujuan pendidikan Islam pada hakekatnya adalah membentuk manusia
19 Ivan Illich, Deschooling Society. Op. Cit. h. 78-79.
Gagasan Pendidikan Ivan Illich
148 At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428
yang berbudi pekerti luhur, yang selalu menjalankan Syari’ah dan
hukum-hukum Islam. Sebagaimana yang di ungkapkan Al-Attas:
The aim of Muslim education is the creation of the “good and
righteous man” who worships Allah in the true sense of the term,
builds up the structure of his earthly life according to the sharia (Islamic
law) and employs it to subserve his faith.20
Akhlak dan moral merupakan suatu hal yang tidak dapat kita
pisahkan dalam pendidikan. Karenanya barang siapa yang bertambah
ilmunya tetapi moralnya tidak bertambah, maka dia semakin jauh dari
Tuhannya Man Izdada Ilman Walam Yazdad Hudad, Lam Yazdad Minallahi
Illa Bu’dan.
Istilah akhlak (khuluk atau character) di ambil dari al-Qur’an,
sedangkan contoh dari akhlak sendiri adalah sebagaimana yang di
contohkan oleh Nabi Muhammad. and you (Muhammad) are on an exalted
standard of character 21. Selain dari itu, istilah khuluk dalam khazanah
Islam klasik di definisikan sebagai sebuah jiwa yang menentukan
tindakan manusia the soul which determines human actions22.
Adapun Al- Farabi salah seorang cendikiawan Islam klasik
mendifinisikan khuluk sebagai sebuah jiwa, dimana seseorang
mengerjakan kebaikan dan keadilan adalah menggambarkan sifat
kebaikannya. Dan jika ia mengerjakan tindakan jahat dan buruk, itu
menggambarkan sifat keburukannya. The states of the soul by which a man
does good deeds and fair actions are the virtues, and those by which he does
wicked deeds and ugly actions, are the vices23.
Sedangkan Yahya ibnu ‘Adi (d. 974) memberikan definisi yang
mendekatinya, yaitu sebagai sebuah jiwa yang mendorong pada tindakan
tanpa pikiran sebelumnya a state of the soul by which man performs his
20 Ahmad Salah Jamjoom, Chairman, Follow-up Committee, First World,
Conference on Muslim Education. 1st, (Mecca, 1977) In Foreword, Aims And Objectives of
Islamic Education Syed Muhammad al-Naquib al-Attas (ed) (Jeddah: King Abdul Aziz
University. 1979) h. V.
21 AI-Qur’an, 68:4. See also .S-ura, 26:137.
22 Dalam penggunaan istilah khuluq dalam literatur arab, Lihat, particularly, Ibn
Manzw n.d., Lisan al-:4rab, 6 vols. (Cairo:Dar al-Ma’arif, II, h. 1244-1248. dan Jamil
Saliba, al Mu jam al Falsafi , 2 vols. (Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnani. I. 1971) h. 49.
23 AI-Farabi, Fusul, p. 27. Compare also al-Farabi, al-Tanbih,h. 54-55.
M. Arfan Mu’ammar
At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428 149
actions without thought or deliberation24.
Definisi Yahya ini, di ikuti oleh beberpa cendikiawan muslim
lainnya seperti Ibnu Miskawaih (d.1030). Demikian juga dengan
cendikiawan muslim lainnya yang menulis tentang etika dalam Islam,
seperti al-Ghazali (d. 1111)25, Fakhr al-Din al-Razi (d. 1209)26, al-Tusi (d.
1274)27, al--Dawwani (d. 1502)28, dan yang lainnya.
Adapun moral dan akhlak dalam cakupan pendidikan, di
definisikan oleh sebagaian cendikiawan muslim sebagai adab. Karena
salah satu hal yang melekat dalam konsep pendididkan Islam adalah
penanaman adab (inculcation of adab).
The fundamental element inherent in the concept of education in
Islam is the inculcation of adab (ta’dib),29 for it is adab in the allinclusive
sense al-Attas mean, as encompassing the spiritual and
material life of a man that instils the quality of goodness that is sought
after
Sedangkan adab sendiri, oleh al-Attas di ibarat layaknya sebuah
undangan untuk menghadiri jamuan spiritual inviting to a banquet. Karena
itulah ilmu pengetahuan dalam Islam sangat dimuliakan seperti halnya
al-Qur’an, karena al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan
dalam Islam. Maka dalam mencari dan menikmati ilmu pengetahuan
yang dimuliakan itu, selayaknya didekati dengan perilaku yang sesuai
dengan sifatnya yang mulia. Sebagaimana yang dijelaskan al-Attas:
Kitab suci al-Qur’an adalah undangan Tuhan kepada manusia untuk
menghadiri jamuan kerohanian, dan cara memperoleh ilmu
pengetahuan yang sebenarnya tentang al-Qur’an itu adalah dengan
menikmati makanan-makanan yang lezat yang tersedia dalam jamuan
kerohanian tersebut. Artinya, karena kenikmatan makanan yang lezat
24 Yahya, Tahdhib; h. 8-9.
25 Al-Ghazali, Ihya ulumuddin III, p. 68; Ihya’ ET, 111, h. 56-57. 7
26 Fakhr al-Din al-Razi, Akhlaq ET, h. 39-40.
27 Al-Tusi, Akhlaq, h. 35-36.
28 Al-Dawwani, Akhlaq, pp. 30-31, 38-39.
29 Conference Book, First World Conference on Muslim Education (Jeddah-Mecca
King Abdul Aziz University, 1393) A.H – 1977 A.D. Recommendations. h. 78,1:1.1.
dalam Pendahuluan Aims And Objectives of Islamic Education Syed Muhammad al-Naquib
al-Attas (ed). (Jeddah: King Abdul Aziz University. 1979) h. 88-89.
Gagasan Pendidikan Ivan Illich
150 At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428
dalam jamuan istimewa itu ditambah dengan kehadiran kawan yang
agung dan pemurah, dan karena makanan tersebut dinikmati menurut
cara-cara, sikap, dan etiket yang suci, maka hendaknya ilmu
pengetahuan yang dimuliakan dan sekaligus dinikmati itu didekati
dengan perilaku yang sesuai dengan sifatnya yang mulia30.
Dari pemaparan di atas telah jelas bagi kita, bahwa tujuan
pendidikan pada hakekatnya adalah membentuk manusia yang bermoral
dan berakhlak. Bukan hanya membentuk kecerdasan dan kepintaran
seorang siswa, atau juga tidak hanya mementingkan kebebasan dalam
memperoleh dan memberikan pendidikan sebagaimana yang
didefinisikan Ivan Illich di atas. Sehingga berdampak pada kebebasan
berfikir siswa yang tidak terbatas.
Kebebasan dalam Pendidikan
Erich From mengungkapkan bahwa pemikiran Ivan Illich yang
terpenting adalah: membebasakan anggapan masyarakat dan membuka
pintu untuk bisa membawa masyarakat keluar dari anggapannya yang
sudah mapan. Sebagaimana ungkapannya:
The importance of his thoughts... lies in the fact that they have a
liberating effect on the mind by showing new possibilities; they make
the reader more alive because they open the door that leads out of
the prison of routinized, sterile, preconceived notions31.
Untuk lebih kongkritnya ide-ide pembebasan Ivan Illich dalam
dunia pendidikan tertuju pada sasaran-sasaran sebagai berikut:
1. Untuk membebaskan akses pada barang-barang dengan menghapus
kontrol yang selama ini di pegang oleh orang atau lembaga atas nilainilai
pendidikan mereka.
2. Untuk membebaskan usaha membagikan keterampilan dengan
menjamin kebebasan mengajar atau mempraktekkan ketrampilan
itu menurut permintaan.
30 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism. (Kuala Lumpur, Art
Printing Works Sdn. Bhd. 1993) h. 149.
31 Erich Fromm, dalam pendahuluan Celebration of Awareness A call for institutional
revolution (Harmondsworth Penguin. 156 pages. First published by Harper and Row
1971. now republished by Marion Boyars). Lihat. http://www.infed.org/thinkers/etillic.
htm. Last updated: June 13, 2006
M. Arfan Mu’ammar
At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428 151
3. Untuk membebaskan sumber-sumber daya yang kritis, dan kreatif
yang dimiliki rakyat dengan mengembalikan kepada masing-masing
orang, kemampuannya dalam mengumpulkan orang dan mengadakan
pertemuan. Suatu kemampuan yang kini makin dimonopoli
oleh lembaga-lembaga yang menganggap diri berbicara atas nama
rakyat.
4. Untuk membebaskan individu dari kewajiban menggantungkan
harapan-harapan pada jasa-jasa yang diberikan oleh profesi mapan
manapun seperti sekolah, dengan memberikan kesempatan belajar
dari pengalaman teman sebayanya dan mempercayakannya kepada
guru, pembimbing, penasehat yang dipilihnya sendiri. Upaya membebaskan
masyarakat dari kecenderungan menganggap sekolah
sebagai satu-satunya lembaga pendidikan mau tidak mau akan menghapus
perbedaan ekonomi, pendidikan, dan politik yang menjadi
tumpuan stabilitas tatanan dunia dan stabilitas banyak bangsa
sekarang ini.32
Dari poin-poin di atas dapat disimpulkan bahwa Illich mencoba
membebaskan masyarakat dari anggapannya tentang sekolah sebagai
sarana satu-satunya untuk memperoleh pendidikan. Ilmu pengetahuan
bagi Illich, tidak hanya dapat diperoleh dari sekolah, akan tetapi dapat
diperoleh dari luar sekolah seperti lingkungan sekitar dan alam. Pada
akhirnya, seorang siswa hanya bisa menuruti apa yang telah dijajakan
oleh sekolah berupa ilmu pengetahuan, tanpa harus tahu dari mana
dan bagimana ilmu pengetahuan tersebut.
Bersikap menuruti apa kata orang lain tanpa didasari pengetahuan
yang memadai, berarti telah menempatkan seseorang pada wilayah
yang terbelenggu oleh batas-batas pikiran orang lain, yang memunculkan
sikap hidup yang kurang atau bahkan tidak kreatif sama sekali.
Sebagaimana yang disinyalir dalam al-Qur’an.
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan,
dan hati semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban”.33
32 Ivan Illich, Deschooling Society. Op. Cit. h. 105.
33 Q.S. Al-Isra’ 17: 36
Gagasan Pendidikan Ivan Illich
152 At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428
Ayat di atas dapat menjadi referensi, bahwa di dalam Islam, tidak
dibenarkan adanya sikap menuruti tanpa disertai dengan argumentasi
yang dapat dipertanggungjawabkan.
Disamping itu, kebebasan bagi Illich adalah kebebasan individu
dalam daya kreasi dan pemikiran kritis, “karena kebebasanlah siswa akan
berpikir”. Dan kebebasan dalam dunia pendidikan adalah kebebasan
untuk berbicara atau berargumen The arguments for academic freedom are
the same as those for freedom of speech, and they rest on the same foundation34.
Tampaknya kebebasan yang di lancarkan oleh Illich tidak
memiliki batasan-batasan tertentu, maka disitulah pentingnya akhlak
dalam pendidikan. Tanpa akhlak, pengetahuan kebebasan akan menjadi
liar. Yang dimaksud kebebasan dalam konteks Islam adalah kebebasan
yang tanpa meninggalkan tradisi atau yang mempersoalkan masalahmasalah
usul. Kebebasan dalam Islam adalah kebebasan memilih yang
baik dari yang tidak baik berdasarkan ilmu. Jika seseorang tidak
mempunyai ilmu untuk membedakan yang baik dan buruk, ia tidak
bebas memilih. Kebebasan seperti ini disebut ikhtiyar, artinya memilih
yang khayr (baik). Jadi bebas dalam batas-batas pengetahuan Islam yang
dapat dipertanggung jawabkan35.
Nampaknya kebebasan berfikir yang dimaksud Ivan Illich ini,
agaknya sejalan dengan apa yang di utarakan oleh hakim Amerika O.W.
Holmes yang menyatakan bahwa “kebebasan berfikir adalah
perdagangan bebas dalam ide-ide (free trades in ideas)36”. Ini yang ia
sebut sebagai Intellectual Freedom.
Akan tetapi Yang perlu dipertanyakan sekarang adalah: apakah
kebebasan berfikir dan kebebasan berpendapat seperti yang dimaksud
Illich di atas dapat diterima dalam batas-batas nilai keIslaman?
Demokrasi Pendidikan
Menurut Illich, Sekolah merupakan sarana umum yang palsu,
sekilas memang sekolah memberi kesan terbuka terhadap semua orang
34 Mazheruddin Siddiqi, Modern Reformist Thought in The Muslim World. (Pakistan:
Islamic Research Institute, International Islamic University. 1982) h. 72.
35 Hamid Fahmi Zarkasyi, Proyek Pembaharuan Pemikiran Islam Indonesia (kajian
kritis dan dan evaluatif). h. 30. Makalah disampaikan pada Wokshop bertajuk Evaluasi
Pembaharuan Pemikiran Islam. Di Institut Studi Islam Darussalam ISID Gontor.
36 Ibid. h. 30
M. Arfan Mu’ammar
At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428 153
yang datang ke sekolah. Tetapi dalam kenyataannya sekolah hanya
terbuka kepada mereka yang terus-menerus memperbarui surat
kepercayaan mereka. Maka Sekolah di ibaratkan seperti jalan tol, bagi
mereka yang mampu membayar biaya sekolah, maka mereka akan
dengan leluasa masuk pada pendidikan di sekolah dan menikmatinya,
tetapi bagi mereka yang tidak mampu membayar, maka mereka tidak
ada kesempatan untuk memperoleh pendidikan di sekolah, ini
diakibatkan karena mahalnya biaya pendidikan.37
Karena mahalnya biaya sekolah inilah, kemudian Ivan Illich
berharap adanya sebuah demokrasi dalam memperoleh pendidikan,
dimana pendidikan dapat dirasakan oleh semua kalangan, baik kaya
ataupun miskin. Sejenak mari kita telaah anak-anak usia sekolah dasar
yang tertampung dan dapat mengenyam pendidikan di beberapa negara.
Kesempatan belajar
Ratio Anak Usia Sekolah Dasar yang Tertampung
Kawasan/Negara Usia SD
Ratio Yang Diterima
Seluruhnya Anak Wanita
AFRIKA
Algeria
Botswana
Burundi
Chad
Libya
Mali
Maroko
Togo
ASIA
Cambodya
India
Indonesia
Iran
Malasyia Barat
Thailand
AMERIKA LATIN
6-12
7-13
6-12
6-11
6-11
7-15
6-10
6-11
6-11
6-12
7-12
6-11
6-11
7-12
70
77
29
31
90
18
54
13
84
56
72
60
88
81
54
80
18
14
54
12
36
9
89
40
Tt
44
85
Tt
37 Ivan Illich, Deschooling Society. Op. Cit. h. 57.
Gagasan Pendidikan Ivan Illich
154 At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428
Thailand
AMERIKA LATIN
Bolivia
Equador
Guetamala
Honduras
Paraguay
7-12
6-11
6-11
7-12
7-12
7-12
81
88
94
61
89
102
Tt
73
91
55
88
99
Sumber: Combs, New Path to Learning (31-32)
Keterangan: tt = tidak tercatat
Perbedaan ratio di setiap negara tergantung pada perhitungan penduduk
dinegara masing-masing.
Dari kolom di atas dapat kita lihat prosentase anak-anak usia
sekolah yang dapat merasakan pendidikan. Dan sebagian besar dari
mereka yang tertampung adalah masyarakat menengah ke atas38.
Kenyataan ini tentu bertentangan dengan kebijakan pembangunan
yang dianut oleh masing-masing negara berkembang bahwa
pendidikan adalah hak dan kewajiban setiap warganegara. Kenyataan
semacam ini juga diakibatkan karena pembiayaan yang sangat besar
jumlahnya.
Akan tetapi, gagasan Illich ini seakan terjebak dalam
“Determenisme ekonomi Marxisme”, yaitu menilai masyarakat hanya
sampai pada sisi materialnya saja dan menganggap bahwa sejarah
masyarakat berlangsung menurut keniscayaan hukum-hukum alam.
Karena basis Ekonomi masyarakat menentukan superstruktur, maka
perubahan pada basis itu berarti mengubah superstruktur39.
Padahal demokratisasi pendidikan tidak hanya pada kesempatan
memperoleh pendidikan, bahkan lebih dari pada itu, yakni yang
menyangkut pada sistem pembelajaran, seperti halnya konsep Paulo
Freire yaitu Problem Possing Education40. (pendidikan dengan pengajuan
38 Data ini dilaporkan oleh konfrensi internasional, yang ditulis oleh Coombs
(1963) dengan judul The World Educational Crisis: A System Analysis. Dalam Prof. Dr.
Sudjana, Pendidikan Luar Sekolah: wawasan, sejarah perkembangan, falsafah, teori pendukung
dan asas. (Bandung: Falah Production. 2001) h. 101.
39Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu. (Yogyakarta: Belukar. Cet II. 2005), h. 147.
Lihat juga K. Marx and F. Engels, On Religion. (Moscow. Foreign Language Publishing
House 1957) h. 134
40Untuk lebih jelasnya tetang konsep tersebut Lihat. Paulo Freire, The Pedagogy of
The Oppressed. (New york: Herder and Herder. 1972)
M. Arfan Mu’ammar
At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428 155
masalah). Karena selama ini gaya mengajar yang kita lihat di
persekolahan adalah guru cenderung untuk memberi perintah kepada
peserta didik dan memberikan rumus-rumus yang di anggap tepat dan
dipandang cocok menurut guru. Guru memainkan peran otoriter.
Peranan guru yang otoriter ini pada dasarnya merampas kebebasan
peserta didik untuk mengembangkan cara berpikir kritis dan reflektif.
Untuk menghindari gaya mengajar tersebut, maka Freire mengajukan
gaya mengajar dengan menerapkan konsep tersebut.
Selain dari pada itu, untuk menciptakan pendidikan yang
demokratis, tidak cukup sampai disitu, akan tetapi demokratisasi dalam
sistem pembelajaran tersebut masih perlu di dukung dengan adanya
demokratisasi dalam pengembangan kurikulum, yaitu demokratisasi
dalam penyusunan, pengembangan dan implementasi kurikulum di
sekolah41, demokratisasi dalam proses pembelajaran sejak penyiapan
program pembelajaran, sampai implementasi proses pembelajaran dalam
kelas dengan memberikan perhatian pada aspirasi siswa serta pelibatan
masyarakat dalam pengembangan kurikulum.
Dengan demikian, sebuah pendidikan dalam sebuah negara dapat
di anggap demokratis jika mencakup tiga unsur tersebut. Adapun
cakupan dari pendidikan demokratis tersebut dapat kita rumuskan:
1. Tidak ada kelas-kelas dalam masyarakat, semua masyarakat berhak
untuk mendapatkan pendidikan, dan pendidikan tidak harus didapat
dari sekolah, tapi anak didik bisa medapatkannya dari lingkungan42.
2. Pelibatan siswa dalam proses pembelajaran, yang tidak sekadar
membuat mereka aktif dalam proses pembelajarannya, tapi juga
mereka diberi kesempatan dalam menentukan aktivitas belajar yang
akan mereka lakukan, bersama-sama dengan guru mereka43.
3. Memperbesar partisipasi masyarakat dalam pendidikan, tidak sekadar
dalam konteks retribusi uang sumbangan pendidikan, tapi justru
dalam pembahasan dan kajian untuk mengidentifikasi berbagai
permintaan stakeholder dan user sekolah tentang kompetensi siswa
41 Lihat Dede Rasyada, Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan
Masyarakat dalam Penyelenggaran Pendidikan (Jakarta: Kencana. 2004)
42 Gagasan ini di ambil dari Ivan Illich, Deschooling Society Op. Cit.
43 Gagasan ini di ambil dari konsep Paulo Freire tentang Problem Possing Education.
Dalam The Pedagogy of The Oppressed. Op. Cit.
Gagasan Pendidikan Ivan Illich
156 At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428
yang akan dihasilkannya44.
Jadi bangunan pendidikan demokratis dapat di simpulkan
menjadi: (1). Demokrasi dalam memperoleh pendidikan. (2) Demokrasi
dalam sistem pembelajaran. dan (3). Demokrasi dalam pengembangan
kurikulum.
Akan tetapi, demokrasi yang dimaksud disni bukanlah demokrasi
dalam tataran politik, akan tetapi pendidikan yang bersemangat
demokratis, adapun penjelasan tentang demokrasi dalam pendidikan
dapat kita simak kutipan berikut:
In democracy what the public needs to know about teachers in the
educational system is that they are competent. The competent teacher
knows the subject he is teaching and how to communicate it to his
pupils. The definition of competence does not shift with every wind
of prejudice, religious, political, racial or economic45.
Pada akhirnya dapat kita simpulkan, bahwa gagasan demokrasi
Ivan Illich hanya dalam tataran demokrasi dalam memperoleh
pendidikan, karena kondisi objektif masyarakat Amerika Latin saat itu
telah mengalami diskriminasi dalam memperoleh pendidikan.
Kurikulum Tersembunyi dan Alternatif Persekolahan
Sekolah memiliki sebuah struktur, dimana struktur itu
mengisyaratkan pesan bahwa individu tak bisa menyiapkan diri untuk
hidup di masa dewasa dalam masyarakat tanpa melalui sekolah, apa
yang tidak diajarkan di sekolah berarti kecil nilainya atau tak bernilai
sedikitpun, dan apa yang dipelajari di luar sekolah tak layak diketahui.
Ivan Illich menamakan struktur ini dengan Kurikulum Tersembunyi dalam
persekolahan, karena ia menjadi kerangka kerja sistem di mana segala
perubahan atas kurikulum dibuat.46 Dan harus dimengerti dengan jelas,
44 Gagasan ini di ambil dari Beane and Apple, 1995: 7 dalam Dede Rasyada,
Paradigma Pendidikan Demokratis. Op. Cit.
45 Robert M Hutchins, The Meaning and Significance of Academic Freedom (From
The Annals of The American Academy of Political and Social Science, XXX (July, 1955),
h. 72-78. Copy right, 1955, The American Academy of Political and Social Science) In
Locke. Gibson. Arm Toward Liberal Education America. August 1966. h. 73-74.
46 Ivan Illich Dkk, Menggugat Pendidikan. Menggugat Pendidikan (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 1999) h. 519
M. Arfan Mu’ammar
At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428 157
bahwa kurikulum tersembunyi menerjemahkan “belajar dari kegiatan”
menjadi sebuah komoditas – dimana sekolah memonopoli pasar.
Kurikulum tersembunyi adalah ritual yang bisa dianggap sebagai
inisiasi resmi anak sebelum masuk ke masyarakat modern, ditetapkan
secara intstitusional dalam sekolah. Tujuan ritual ini adalah bersembunyi
dari mata para pesertanya, dalam pertentangan antara mitos tentang
masyarakat egaliter dengan kenyataan kesadaran-kelas yang
diabsahkannya47.
Dari sinilah kemudian Ivan Illich mencoba untuk mendekonstruksi
sekolah Disestablish School. Akan tetapi dekonstruksi yang dilkukan
oleh Illich ini guna membangun sebuah Convival Intitution (alternatif
persekolahan). Karena Illich menganggap bahwa sekolah saat itu tidak
dapat lagi di andalkan untuk membentuk kualitas anak didik. Akan
tetapi bagaimanakah bangunan dari alternatif persekolahan tersebut?
Itulah yang perlu dipertanyakan.
Bangunan dari alternatif persekolahan tersebut, sebagaimana
yang dijelaskan oleh Ivan Illich adalah di bangun di atas style
persekolahan yang sekarang. Sebagaimana yang ia tulis:
Universal education through schooling is not feasible. It would be
more feasible if it were attempted by means of alternative institution
built on the style of present schools48.
Pendidikan Universal (alternatif persekolahan) yang dimaksud
Illich tidaklah mustahil, dan itu akan menjadi mungkin jika alternatif
persekolahan tersebut dibangun di atas model pendidikan sekarang.
Akan tetapi muncul sebuah pertanyaan. Buat apa dia membangun
gedung yang sama, setelah sebelumnya ia hancurkan?
Inilah yang perlu di telaah bersama, ada beberapa tokoh yang
mengkritik gaya dekonstruksi Illich. Seperti John Abbott, yang
mengetuai sebuah organisasi pendidikan 2000 di Uk, mengatakan:
The deschooled society is not a reality. in fact, during the modern
age, the school increasingly established its position in society. However,
that position has recently again been called into question. The school
will probably not die away, but its role in the postmodern society
47 Ibid. h. 519
48 Ivan Illich, Deschooling Society. Op. Cit. di pendahuluan.
Gagasan Pendidikan Ivan Illich
158 At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428
will certain not be sames as in the late modern world49
Gagasan Illich, bagi John adalah tidak akan menjadi kenyataan
selama abad modern, dimana sekolah semakin menjamur dan banyak
didirikan. Dan sekolah selamanya tidak akan pernah mati, akan tetapi
sekolah merupakan jalan hidup bagi masyarakat post-modern.
Penutup
Setelah mengkaji pemikiran Ivan Illich di atas, dapat kita
simpulkan sebagai berikut:
Pertama: Tujuan pendidikan bagi Ivan Illich adalah kebebasan
dalam berfikir, sehingga menimbulkan daya kreatifitas anak, akan tetapi
sayangnya Ivan Illich tidak memberikan batasan-batasan kebebasan
tersebut. Dan kebebasan ini sangat berbeda dengan kebebasan yang
dimaksud dalam Islam. Disamping itu tujuan pendidikan Islam adalah
membentuk manusia yang ber-etika dan ber-akhlak serta berbudi pekerti
luhur, dan Ivan Illich seakan mengesampingkan etika dalam pendidikan,
padahal keduanya merupakan kesatuan yang tak dapat terpisahkan.
Kedua: Gagasan pendidikan demokrasinya hanya terbatas pada
demokrasi dalam memperoleh pendidikan, sedangkan pendidikan dalam
suatu negara dapat dianggap demokratis jika memiliki tiga cakupan
seperti yang di paparkan di atas.
Selain itu juga, gagasan pendidikan demokrasinya seakan terjebak
oleh Determenisme ekonomi Marxisme, yang menilai manusia dari segi
materialnya saja. Padahal didalam Islam, semua manusia sama di mata
Allah, yang membedakan hanyalah takwanya.
Ketiga: Gagasannya untuk mendekonstruksi persekolahan bagi
sebagian kalangan adalah sebuah hal yang Utopis, karena semakin
menjamurnya sekolah saat ini dan saat ini sekolah menjadi jalan hidup
bagi masyarakt post-modern.
Keempat: Gagasannya untuk membangun alternatif persekolahan
agak sedikit kabur dalam hal konsep. Karena seakan-akan ia membangun
bangunan yang sama setelah sebelumnya ia hancurkan.
49 Per Dalin and Val D. Rust, Toward Schooling for The Twenty-firs Century (New
York: British Library Cataloguing-in-Publication Data. 1996) h. 142-143
M. Arfan Mu’ammar
At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428 159
Walaupun demikian, gagasan Ivan Illich untuk membebaskan
masyarakat dari belenggu sekolah paling tidak bisa membuat masyarakat
sadar, bahwa ilmu tidak hanya dapat diperoleh dari sekolah saja, dan
sekolah bukanlah sarana satu-satunya dalam mencari ilmu pengetahuan.
Daftar Pustaka
Al-Attas, Syed Muhammad al-Naquib. Aims And Objectives of Islamic
Education. (Jeddah: King Abdul Aziz University. 1979)
______. Islam and Secularism (Kuala Lumpur: Art Printing Works Sdn.
Bhd. 1993)
Al-Ghozali Ihya’ Ulumuddin, Masyadul Husaini, tt.
Conference Book, First World Conference on Muslim Education, (Jeddah-
Mecca: King Abdul Aziz University, 1393 A.H – 1977 A.D)
Coombs, The World Educational Crisis: A System Analysis. 1963. Dalam
Prof. Dr. Sudjana Pendidikan Luar Sekolah: wawasan, sejarah
perkembangan, falsafah, teori pendukung dan asas (Bandung, Falah
Production. 2001)
Dalin, Per and Val D. Rust. Toward Schooling for The Twenty-firs Century.
(New York. British Library Cataloguing-in-Publication Data. 1996)
Paul Monroe (ed) Encyclopaedia of Psychology of Education (New Delhi
110002. India: Published By: Mrs. Rani Kapoor for Cosmos
Publications Div.of Genesis Publishing PLt. Ltd. 24 –B, Ansari
Road, Darya Ganji. 2002)
Freire, Paulo. The Pedagogy of The Oppressed. (New york: Herder and
Herder. 1972)
______. Politik Pendidikan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999)
Hutchins, Robert M. The Meaning and Significance of Academic Freedom
(From The Annals of The American Academy of Political and
Social Science, XXX (July, 1955), 72-78. Copy right, 1955, The
American Academy of Political and Social Science) In Locke.
Gibson. Arm Toward Liberal Education (America. August 1966)
Illich, Ivan. Celebration of Awareness A Call for Institutional Revolution.
(Patheon Books. 1969) terj. Indonesia oleh: Saut Pasaribu. Perayaan
Kesadaran (Yogyakarta, Ikon Teralitera. 2002)
______. Deschooling Society (Harmondsworth: Penguin. 116 pages. First
published by Harper and Row 1971; now republished by Marion
Boyars).
Gagasan Pendidikan Ivan Illich
160 At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428
______ Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah. (Jakarta: Obor
Nasional 2000)
______ dkk. Menggugat Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999)
______ Matinya Gender. (Yogyakarta. Pustaka Pelajar 1998)
Jamjoom, Ahmad Salah. Chairman, Follow-up Committee, First World
Conference on Muslim Education. 1st, (Mecca, 1977)
Marx, K. and F. Engels. On Religion. Moscow. (Foreign Language
Publishing House 1957)
Maslow, Abraham. Motivation and Personality. (New York. Harper and
Row Publication. 1970) terj. Indonesia Oleh: Nurul Imam. Motivasi
dan Kepribadian. (Bandung: Rosda Karya. Cet IV. 1993)
Muslih, Mohammad. Filsafat Ilmu. (Yogyakarta: Belukar. Cet II, 2005)
Omar, Mohd Nasir. Christian and Muslim Ethic – A Study of How to Attain
Happiness as Reflected in The Works on Tahdhib al-Akhlaq By Yahya
Ibnu Adi (d. 974) and Miskawaiyh (d. 10.30). (Kuala Lumpur. Dewan
Bahasa dan Pustaka. 2003)
Rasyada, Dede. Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan
Masyarakat dalam Penyelenggaran Pendidikan. (Jakarta: Kencana.
2004)
Siddiqi, Mazheruddin. Modern Reformist Thought in The Muslim World
(Pakistan, Islamic Research Institute, International Islamic
University. 1982)
Sudjana. Pendidikan Luar Sekolah: wawasan, sejarah perkembangan, falsafah,
teori pendukung dan asas. (Bandung, Falah Production. 2001)
Zarkasyi, Hamid Fahmi. Proyek Pembaharuan Pemikiran Islam Indonesia
(kajian kritis dan dan evaluatif). Makalah disampaikan pada
Wokshop bertajuk Evaluasi Pembaharuan Pemikiran Islam. Di
Institut Studi Islam Darussalam ISID Gontor
Website
Bibliographical reference: Smith, M. K. (2001) ‘Ivan Illich: deschooling,
conviviality and the possibilities for informal education and
lifelong learning’, the encyclopedia of informal education, http:/
/www.infed.org/thinkers/et-illic.htm. Last updated: June 13, 2006
Fromm, Erich. in his introduction to Celebration of Awareness A call
for institutional revolution, Harmondsworth Penguin. 156 pages.
(First published by Harper and Row 1971; now republished by
M. Arfan Mu’ammar
At-Ta’dib Vol.3 No.2 Sya’ban 1428 161
Marion Boyars). Lihat. http://www.infed.org/thinkers/etillic.
htm. Last updated: June 13, 2006
Illich, Ivan. Energy and Equity. London: Calder & Boyars, 1974. Created
95-06-11, last modified 95-06-11 by Ira Woodhead / Frank Keller.
http://www.infed.org/thinkers/et-illic.htm. Last updated: June
13, 2006.
________ Celebration of Awareness A Consitution for Cultural Revolution..
London: Calder & Boyas, 1971. Created 95-08-02, last modified
95-08-02 by Ira Woodhead / Frank Keller. Lihat. http://
www.infed.org/thinkers/et-illic.htm. Last updated: June 13, 2006
ANALISIS JURNAL
Oleh : Raditya Bagus Pamungkas
Npm: 19144600011 Universitas PGRI Yogyakarta Email : raditapamungkas@gmail.com
A. IDENTITAS JURNAL
1. Nama Jurnal : Jurnal Pendidikan
2. Nomor : 2
3. Halaman :
4. Tahun Penerbit :
5. Judul Jurnal : GAGASAN PENDIDIKAN IVAN ILLICH
6. Nama Penulis : M. Arfan Mu’amar
B. PENDAHULUAN JURNAL
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena dengan pendidikan manusia akan mengalami sebuah perubahan yaitu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu. Dan lebih dari itu, dengan pendidikan manusia akan sangat tinggi derajatnya2. Dengan demikian, Pendidikan merupakan upaya mulia dalam rangka menghilangkan kebodohan dan memanusiakan manusia. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imanuel Kant bahwa manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan.
C. TUJUAN PENELITIAN
Untuk mencapai hal yang maksimal dan yang diinginkan dalam out put di dunia pendidikan, perlu rasanya untuk sejenak melihat dan merumuskan tujuan-tujuan dari pendidikan itu sendiri.
D. METODE PENELITIAN
penelitian tentang Institusional Alternative In a Technological Society dengan memfokuskan studi-studi tentang Amerika Latin. Komitmennya pada humanisme radikal menjadikan ia salah seorang hero bagi kaum katolik kiri. Akibat sepak terjangnya banyak tidak dimengerti oleh hirarki gereja dan lembaga-lembaga konvensional serta ide-ide yang berlaku tentang apa itu keutamaan sosial
E. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Menurut Illich, pendidikan yang berlangsung di Amerika Latin saat itu tidak mampu menjawab bahkan menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh siswa. Sekolah hanya mendorong kepada pengasingan siswa dari hidup. Sekolah hanya memaksa semua anak untuk memanjat tangga pendidikan yang tidak berujung dan tidak meningkatkan mutu, melainkan hanya menguntungkan individu-individu yang sudah mengawali pemanjatan itu sejak dini. Pengajaran yang diwajibkan di sekolah membunuh kehendak banyak orang untuk belajar mandiri, pengetahuan dilakukan ibarat komoditi, dikemas-kemas dan dijajakan.
Sehingga Sistem pendidikan yang ada waktu itu dapat diandaikan sebagai sebuah bank (banking concept of education) dimana pelajar diberi ilmu pengetahuan agar ia kelak dapat mendapatkan hasil dengan lipat ganda. Jadi, guru adalah subjek aktif, sedangkan anak didik adalah objek pasif yang penurut. Pendidikan akhirnya bersifat negatif di mana guru memberikan informasi yang harus ditelan yang wajib diingat dan dihafalkan.
F. KESIMPULAN
Setelah mengkaji pemikiran Ivan Illich di atas, dapat kita simpulkan sebagai berikut: Pertama: Tujuan pendidikan bagi Ivan Illich adalah kebebasan dalam berfikir, sehingga menimbulkan daya kreatifitas anak, akan tetapi sayangnya Ivan Illich tidak memberikan batasan-batasan kebebasan tersebut. Dan kebebasan ini sangat berbeda dengan kebebasan yang dimaksud dalam Islam. Disamping itu tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang ber-etika dan ber-akhlak serta berbudi pekerti luhur, dan Ivan Illich seakan mengesampingkan etika dalam pendidikan, padahal keduanya merupakan kesatuan yang tak dapat terpisahkan. Kedua: Gagasan pendidikan demokrasinya hanya terbatas pada demokrasi dalam memperoleh pendidikan, sedangkan pendidikan dalam suatu negara dapat dianggap demokratis jika memiliki tiga cakupan seperti yang di paparkan di atas. Selain itu juga, gagasan pendidikan demokrasinya seakan terjebak oleh Determenisme ekonomi Marxisme, yang menilai manusia dari segi materialnya saja. Padahal didalam Islam, semua manusia sama di mata Allah, yang membedakan hanyalah takwanya. Ketiga: Gagasannya untuk mendekonstruksi persekolahan bagi sebagian kalangan adalah sebuah hal yang Utopis, karena semakin menjamurnya sekolah saat ini dan saat ini sekolah menjadi jalan hidup bagi masyarakt post-modern. Keempat: Gagasannya untuk membangun alternatif persekolahan agak sedikit kabur dalam hal konsep. Karena seakan-akan ia membangun bangunan yang sama setelah sebelumnya ia hancurkan.
G. DAFTAR PUSTAKA
Al-Attas, Syed Muhammad al-Naquib. Aims And Objectives of Islamic
Education. (Jeddah: King Abdul Aziz University. 1979)
______. Islam and Secularism (Kuala Lumpur: Art Printing Works Sdn.
Bhd. 1993)
Al-Ghozali Ihya’ Ulumuddin, Masyadul Husaini, tt.
Conference Book, First World Conference on Muslim Education, (Jeddah-
Mecca: King Abdul Aziz University, 1393 A.H – 1977 A.D)
Coombs, The World Educational Crisis: A System Analysis. 1963. Dalam
Prof. Dr. Sudjana Pendidikan Luar Sekolah: wawasan, sejarah
perkembangan, falsafah, teori pendukung dan asas (Bandung, Falah
Production. 2001)
Dalin, Per and Val D. Rust. Toward Schooling for The Twenty-firs Century.
(New York. British Library Cataloguing-in-Publication Data. 1996)
Komentar
Posting Komentar