PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT KI HADJAR DEWANTARA

DAN DRIYARKARA

Agam Ibnu Asa

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Email: agamibnuasa@gmail.com

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendidikan karakter menurut Ki Hadjar Dewan-tara dan Driyarkara dan relevansinya bagi pendidikan karakter di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan bentuk studi pustaka. Objek material penelitian yaitu pemikiran pendi-dikan karakter Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara ditinjau dari perspektif aliran progresivisme. Metodenya dengan komparasi dua atau lebih filsuf atau aliran. Penelitian ini membandingkan dua pandangan tokoh, yaitu Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara tentang pendidikan Karakter. Hasil pe-nelitian menunjukkan bahwa (1) pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara menekankan tiga instru-men dasar yaitu keluarga, perguruan, dan pergerakan pemuda; (2) Driyarkara menekankan satu ke-satuan tunggal yaitu ayah-ibu-anak dalam pendidikan karakter dasar; dan (3) pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara apabila dikombinasikan akan relevan dengan pendidikan karakter di Indonesia.

Kata Kunci: pendidikan karakter, Ki Hadjar Dewantara, Driyarkara

CHARACTER EDUCATION ACCORDING TO KI HADJAR DEWANTARA AND DRIYARKARA

Abstract: This study aims to analyze character education according to Ki Hadjar Dewantara and Dri-yarkara and its relevance for character education in Indonesia. This research is a qualitative research with a form of literature study. The material objects of the study were the educational thoughts of the characters of Ki Hadjar Dewantara and Driyarkara, reviewed by the progressivism stream perspec-tive. The method with a comparison of two or more philosophers or schools. This study compares two views of figures namely Ki Hadjar Dewantara and Driyarkara about Character education. The re-search shows the following results: (1) Ki Hadjar Dewantara's character education emphasizes three basic instruments namely family, college and youth movement; (2) Driyarkara emphasizes a single entity namely father-mother-child in basic character education; and (3) Education of Ki Hadjar charac-ters Dewantara and Driyarkara when combined will be relevant to character education in Indonesia.

Keywords: character education, Ki Hadjar Dewantara, Driyarkara

PENDAHULUAN

Dewasa ini perkembangan di berba-gai bidang kehidupan sangat pesat. Hal itu tidak lepas dari campur tangan manusia sebagai agen perubahan dalam kehidupan itu sendiri. Manusia mampu mencipta se-gala hal yang berkaitan dengan bidang eko-nomi, sosial, politik, dan ilmu pengetahuan secara luar biasa. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai hasil ciptaan manusia seperti pesawat terbang, kapal laut, kereta api, dan bahkan menciptakan hewan yang berspe-sies baru. Kehebatan manusia tersebut ti-dak mudah ada begitu saja, melainkan ada-nya karena suatu pendidikan.

Secara sosiologis pendidikan merupa-kan sebuah upaya penerusan nilai-nilai ke-budayaan dari generasi yang lebih tua ke-pada generasi yang lebih muda. Pendidik-an dianggap sebagai sarana efektif proses sosial. Oleh sebab itu, pendidikan sering dijadikan sebagai agen perubahan sosial dalam sebuah masyarakat. Selain itu, Rijino menegaskan bahwa pendidikan juga ikut berpartisipasi dalam perubahan sosial itu sendiri, sehingga keduanya saling berhu-bungan secara timbal balik (Zainuddin,

246

Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun IX, Nomor 2, Oktober 2019

2008:24). Dengan pendidikan segala per-kembangan ilmu pengetahuan dan seba-gainya tersebut dimungkinkan terjadi kare-na adanya sebuah tranformasi nilai dalam sebuah peradaban manusia, yang membuat manusia untuk lebih progresif dalam men-jalani kehidupan (Idris, 2017).

Seiring perkembangan zaman yang sangat pesat, pendidikan juga ikut meng-alami perkembangan yang begitu pesat pula. Kecanggihan teknologi dan informasi mem-buat dunia pendidikan semakin modern dan menyesuaikan dengan globalisasi. Per-soalan yang muncul dengan perubahan za-man ini, yaitu merosotnya karakter gene-rasi muda yang semakin memprihatinkan karena dianggap menyimpang jauh dari nilai-nilai yang hidup di Indonesia.

Rachman (Ningrum, 2015:19) juga me-nambahkan bahwa remaja modern saat ini mempunyai kecenderungan dan permisif terhadap hubungan seks pranikah. Pusat data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2007 memapar-kan hasil penelitian yang dilakukan oleh Damayanti untuk disertasinya pada Fakul-tas Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universi-tas Indonesia menunjukkan bahwa dari 100 orang siswa, 5 di antaranya pernah mela-kukan hungan seks di luar nikah. 119 seko-lah di lima daerah di Jakarta dan 8941 sis-wa sekolah menengah atas ikut ambil bagi-an dalam penelitian ini. Selanjutnya survei yang dilakukan oleh BKKBN di 33 provinsi di Indonesia pada tahun 2008 menyebut-kan bahwa sekitar 63% dari remaja terlibat dalam hubungan seks pranikah dan 21% remaja putri melakukan aborsi. Kemudian, data mengejutkan datang dari Dinas Kese-hatan tahun 2009 menunjukkan bahwa re-maja-remaja di empat kota besar yakni Me-dan, Jakarta Pusat, Bandung, dan Surabaya mempunyai teman yang berhubungan seks sebelum menikah sebesar 35.9%. Sementa-ra itu, para responden dalam data ini juga sudah melakukan hubungan seks pra ni-kah sebesar 6.9% (Ningrum, 2015:19).

Selain itu, survey yang diadakan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak pada bulan Januari – Juni 2010 di kota-kota besar di Indonesia yang melibatkan 4500 siswa sekolah pertama dan menengah memper-lihatkan bahwa 62.7 5 siswa perempuan su-dah tidak perawan lagi. Tentu saja fenome-na ini sangatlah mengkhawatirkan karena pada pundak remaja inilah harapan itu di-sematkan, mengingat remaja sebagai gene-rasi penerus bangsa, dan harapan itu akan memudar apabila remaja terjerumus dalam pergaulan bebas dan seks bebas (Ningrum, 2015:19).

Tentu saja berbagai problem kenakal-an remaja tersebut berkaitan erat dengan ba-gaimana pendidikan karakter dalam se-buah institusi sekolah itu berlangsung. Ka-rena jika pendidikan karakter benar-benar berhasil diterapkan, kenakalan remaja se-bagaimana sudah dicontohkan tersebut se-tidaknya dapat diminimalisasi. Oleh sebab itu, penulis tertarik mengkaji persoalan pendidikan karakter menurut dua pemikir besar terkait dengan pendidikan yang ada di Indonesia, yaitu Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara. Setidaknya dari kedua to-koh ini nantinya akan didapatkan sebuah pemahaman tentang konsep pendidikan karakter menurut dua tokoh tersebut dan kemudian dikaitkan dengan pendidikan karakter di Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara adalah dua tokoh yang memiliki pandang-an terkait dengan pendidikan. Pendidikan karakter dalam hal ini dapat dicapai de-ngan beberapa cara. Ki Hadjar Dewantara (Suparlan, 2015) menjelaskan dalam kon-sep pendidikan yang harus berfokus pada Tri Pusat Pendidikan: (1) pendidikan ke-luarga; (2) pendidikan dalam alam pergu-

247

Pendidikan Karakter Menurut Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara

ruan; dan (3) pendidikan dalam alam pe-muda atau masyarakat. Menurut Driyar-kara pendididikan sebagai hominisasi dan humanisasi atau memanusiakan manusia dan hominisasi sebagai proses memanusia-kan manusia pada umumnya (Aziz, 2016: 136). Kedua pandangan ini nantinya akan penulis tinjau dengan aliran Progresivisme, dengan pandanganya yang menganggap bahwa manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat meng-hadapi dan mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam manusia itu sendiri (Barnadib, 1982:28).

Dengan menganalisis menggunakan progresivisme tersebut kiranya dua pan-dangan tokoh tersebut nantinya ditemukan sebuah benang merah yang membuat kedua konsep tersebut memiliki sebuah ke-samaan, yaitu terkait dengan tujuan pendi-dikan karakter itu sendiri dan nantinya akan direlevansikan dengan konsep pendi-dikan karakter di Indonesia.

Penelitian ini kiranya penting sebagai upaya mendapatkan sebuah pemahaman baru terkait dengan pendidikan karakter di Indonesia dengan sudut pandang konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Dri-yarkara. Melihat semakin merosotnya ka-rakter siswa didik sebagaimana dikatakan Husaini (2010:1) bahwa munculnya gagas-an program pendidikan karakter di Indo-nesia, bisa dimaklumi karena selama ini proses pendidikan dirasa belum berhasil membangun manusia Indonesia yang ber-karakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal, karena banyak lu-lusan sekolah atau sarjana yang piawai da-lam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mental dan moralnya lemah.

Adapun beberapa problem yang akan dicoba dijawab dalam penelitian ini di an-taranya sebagai berikut. Pertama, tentang bagaimana pendidikan karakter menurut Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara? Ke-dua, bagaimana pandangan aliran progre-sivisme? Ketiga, bagaimana tinjauan progre-sivisme terhadap komprasi pendidikan ka-rakter Ki Hadjar Dewantara dan Driyarka-ra?

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian komparatif. Penelitian ini membandingkan dua atau lebih filsuf atau aliran. Penelitian ini membandingkan dua pandangan tokoh yaitu Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara tentang pendidikan karakter (budi pekerti). Nantinya penelitian ini akan mengarah pada pencarian persamaan dan perbedaan pandangan pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara, kemudian men-cari kelebihan dan kekurangan pandangan dua tokoh tersebut dan menarik relevansi-nya bagi pendidikan di Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data yang diperoleh melalui penelusuran kepustaka-an yang terkait dengan tema objek material dan objek formal. Data tersebut dikate-gorikan menjadi dua sumber pustaka, ya-itu pustaka primer dan pustaka sekunder. Pustaka primer yaitu data utama yang di-gunakan oleh peneliti sebagai sumber acu-an, meliputi unsur-unsur yang berkaitan de-ngan objek material yaitu pemikiran pen-didikan karakter Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara, juga objek formal yaitu pan-dangan aliran progresivisme yang semua-nya termuat dalam buku-buku, hasil-hasil penelitian, dan juga jurnal.

Penelitian ini merupakan penelitian komparatif, penulis memilih beberapa me-tode sebagai berikut. Deskripsi, yang ber-fungsi menampakkan kesamaan dan per-bedaan kedua konsep baik yang tampak dalam istilah, pendekatan, argumentasi, segi perhatian, maupun yang lebih mendalam dalam asumsi dasar, orientasi berpikir. Eva-

248

Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun IX, Nomor 2, Oktober 2019

luasi kritis, untuk membandingkan kekuat-an dan kelemahan masing-masing pan-dangan. Setelah itu dilakukan evaluasi dengan membandingkan dua pandangan yang ada (Bakker & Zubair, 1990:84).

Interpretasi, yakni masing-masing pandangan atau visi yang dibandingkan dipahami menurut warna dan keunikanya sendiri-sendiri. Dari awal diberi tekanan pada segi-segi yang relevan bagi tema-tema atau masalah yang dikomparasikan pada mereka, dan pada asumsi-asumsi yang melandasi mereka (Bakker & Zubair, 1990:85). Holistik, yakni semua istilah di-lihat dalam rangka keseluruhan visi nas-kah dan seluruh pandangan dan perkem-bangan pikiran pengarang mengenai ma-nusia, dunia, dan Tuhan (Bakker & Zubair, 1990:86).

Komparasi, yakni perbandingan da-pat dibuat setelah masing-masing pan-dangan tokoh diuraikan secara lengkap. Perbandingan juga bisa dimulai dengan menguraikan pandangan tokoh terlebih da-hulu sambil menguraiakan bisa sekaligus memberikan perbandingan serta dapat di-ketemukan model perbandingan ketiga de-ngan menekankan pada aspek tertentu atau justru menyeluruh pada kedua tokoh (Bakker & Zubair, 1990: 87).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pendidikan Karakter Menurut Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara

Muslich menegaskan bahwa karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwu-jud dalam pikiran, sikap, perasaan, perka-taan, dan perbuatan berlandaskan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Pendidikan karakter ada-lah suatu sistem penanaman nilai-nilai ka-rakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksana-kan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tu-han Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, se-sama, lingkungan, maupun kebangsaan se-hingga menjadi manusia yang utuh atau insan kamil (Ningsih, 2015: 56 ).

Karakter dapat dibentuk salah satu-nya dengan pendidikan. Pendidikan meru-pakan perbuatan fundamental karena pen-didikan mengubah dan mengonstruksi per-buatan manusia, karena mendidik itu me-manusiakan manusia (muda), karena men-didik itu perbuatan hominisasi dan huma-nisasi. Perbuatan yang membuat manusia menjadi manusia, sudah selayaknya diakui dan dikatakan sebagai perbuatan funda-mental (Driyarkara, 1980:87). Karena de-ngan hal itu manusia akan tetap memiliki budi pekerti yang luhur ketika sudah di-tanamkan dari semenjak muda.

Pendidikan karakter mengarahkan pada cara berpikir dan perilaku dari siswa yang nantinya akan menjadi tulang pung-gung bangsa. Karakter termanifestasi da-lam sifat dan perbuatan untuk selaras de-ngan budaya bangsa Indonesia yang sela-ma ini telah melekat. Pengaruh moderni-sasi dan globalisasi yang memberikan ba-nyak warna dalam kehidupan remaja me-mang harus dibentengi dengan pembela-jaran karakter. Boleh dikatakan bahwa pen-didikan karakter adalah usaha untuk pe-nanaman nilai-nilai pada siswa melalui ber-bagai macam cara untuk menjadikan me-reka sebagai individu yang berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Imple-mentasi dari pendidikan karakter di Indo-nesia bersumber pada Pancasila yang sela-ma ini menjadi dasar penting. Adapun pe-ngembangan dari pendidikan karakter di-pandu dengan buku dari pemerintah, yang selanjutnya diolah lebih mendalam oleh

249

Pendidikan Karakter Menurut Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara

sekolah masing-masing yang menguasai keadaan secara langsung. Maka dari itu, tidak mengherankan jika implementasi pen-didikan karakter di tiap-tiap sekolah me-miliki wacana dan praktik yang berbeda-beda karena keadaan di tiap sekolah juga berbeda (Ningsih, 2015:3).

Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara dalam hal ini merupakan tokoh di Indone-sia yang memiliki gagasan tentang pen-didikan karakter yang cukup mendasar.

Biografi Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat di Yogyakarta tepatnya pada tanggal 2 Mei 1889 di lingkungan kraton Yogyakarta. Ra-den Mas Soewardi Soeryaningrat saat ber-usia 40 tahun berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Mulai saat itu ia tidak menggunakan nama kebangsawanan di de-pan namanya. Hal itu supaya ia dapat de-kat dengan rakyat baik secara fisik mau-pun hatinya. Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdi-an demi kepentingan bangsanya (Suroso, 2011: 47-48).

Ki Hadjar Dewantara menamatkan se-kolah dasar di ELS (Sekolah Dasar Belan-da) kemudian melanjutkan ke Stovia (Se-kolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak sampai tamat karena sakit. Ia juga sempat menjadi wartawan dan aktif mengikuti or-ganisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908 ia aktif di seksi propaganda Budi Oetomo untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada wak-tu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan Indonesia merdeka (Suroso, 2011:48).

Perjalanan karier Ki Hadjar Dewan-tara cukup panjang, selain pada keserius-annya mencurahkan perhatian pendidikan di Tamansiswanya, ia juga tetap rajin me-nulis. Namun, tema tulisanya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebuda-yaan berwawasan kebangsaan. Tulisanya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah ia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa In-donesia. Setelah zaman kemerdekaan, Ki Hadjar Dewantara pernah menjabat seba-gai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Ke-budayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara tidak hanya diabadikan sebagai seorang dan tokoh pahlawan pendidikan yang bergelar Bapak Pendidikan Nasional yang oleh karenya pada tanggal 2 Mei yang merupakan tanggal kelahiranya dijadikan hari pendidikan nasional, akan tetapi ia juga ditetapkan sebagai pahlawan pergerakan nasional melalui keputusan presiden RI No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957. Dua tahun setelah mendapat gelar itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Yogyakarta (Suroso, 2011: 51).

Pendidikan Budi Pekerti (Karakter) Ki Ha-djar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa budi pekerti atau watak yaitu bulat-nya jiwa manusia, yang dalam bahasa asing disebut ”karakter” sebagai jiwa yang berasas hukum kebatinan. Orang yang te-lah mempunyai kecerdasan budi pekerti se-nantiasa memikirkan dan merasakan serta memakai ukuran, timbangan dan dasar yang pasti dan tetap. Itulah sebabnya tiap-

250

Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun IX, Nomor 2, Oktober 2019

tiap orang itu dapat dikenal wataknya de-ngan pasti. Karena watak atau budi pekerti bersifat tetap dan pasti buat satu-satunya manusia, sehingga dapat dibedakan orang yang satu dengan yang lain. Budi pekerti, watak, atau karakter, adalah bersatunya gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan, yang lalu menimbulkan tenaga. Budi berarti “fikiran, perasaan, kemauan” dan pekerti artinya “tenaga”. Jadi, budi pe-kerti adalah sifat jiwa manusia, mulai dari angan-angan hingga terjelma sebagai te-naga (Tamansiswa, 2013:25).

Atas dasar hal tersebut pendidikan ka-rakter sangatlah dibutuhkan dalam rangka menciptakan para generasi penerus bangsa yang memiliki budi pekerti atau karakter yang kuat, supaya nantinya dalam kehi-dupan berbangsa dan bernegara mereka mampu bersikap sesuai prinsip luhur yang mereka pegang. Mereka tidak akan goyah pada suatu hal yang kiranya akan mem-buat mereka jatuh pada jurang kesesatan, yang justru nantinya akan merugikan me-reka sendiri.

Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa dengan adanya budi pekerti, setiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka, yang dapat menguasai dan memerintah diri sendiri. Itulah manusia yang beradab dan itulah tujuan pendidi kan dalam garis besarnya. Pada dasarnya pendidikan ber-kuasa untuk mengalahkan dasar-dasar jiwa manusia, baik dalam arti melenyapkan dasar-dasar yang jahat dan memang dapat dilenyapkan maupun mengurangi atau me-nutupi tabiat-tabiat yang tak dapat lenyap sama sekali, karena bersatu dengan jiwa.

Budi pekerti seseorang dapat mewu-judkan sifat kebatinan seseorang dengan pasti dan tetap. Perlu ditegaskan bahwa ada dua budi pekerti seseorang yang sama sekaligus. Seperti halnya keadaan dengan roman muka manusia yang tidak ada yang sama. Meskipun begitu orang dapat mem-bagi-bagi budi pekerti manusia menjadi beberapa macam atau jenis dengan mak-sud supaya orang dapat mempunyai ikhti-sar tentang garis-garis atau sifat-sifat watak orang yang umum (Tamansiswa, 2013:25).

Pendidikan karakter menurut Ki Ha-djar Dewantara dapat ditempuh dengan Sistem Trisentra yaitu tiga tempat pergaul-an yang menjadi pusat pendidikan. Di da-lam kehidupan anak-anak ada tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya yaitu alam ke-luarga, alam perguruan, dan alam perge-rakan pemuda. Pertama, pendidikan akan senpurna apabila tidak hanya disandarkan pada sikap dan tenaga si pendidik, akan te-tapi juga harus beserta suasana yang sesuai dengan maksud pendidikan. Kemudian yang kedua yaitu menghidupkan, menam-bah dan menggembirakan perasaan keso-sialan tidak akan terlaksanan jika tidak di-dahului pendidikan diri (pendidikan indi-vidual) karena inilah dasar pendidikan budi pekerti yang akan dapat menimbulkan rasa kemasyarakatan dan rasa kesosialan.

Alam keluarga adalah pusat pendi-dikan yang pertama dan yang terpenting, oleh karena sejak timbulnya adab-kemanu-siaan hingga kini, hidup keluarga itu selalu mempengaruhi tumbuhnya budi pekerti dari tiap-tiap manusia. Karena di lingkung-an keluargalah segala hal asali berasal, se-hingga banyak pula pengaruh yang diha-silkan dalam keluarga terhadap budi pe-kerti anak. Alam perguruan adalah pusat pendidikan yang teristimewa, karena per-guruan berkewajiban mengusahakan kecer-dasan pikiran (kecerdasan intelektual) be-serta memberikan ilmu pengetahuan (ba-lai-wiyata). Sedangkan alam pemuda ada-lah pergerakan pemuda yang pada zaman kini terlihat sudah tetap adanya, yang ha-rus diakui dan digunakan untuk menyo-

251

Pendidikan Karakter Menurut Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara

kong pendidikan di alam keluarga dan per-guruan (sekolah) (Tamansiswa, 2013:75).

Ki Hadjar Dewantara juga menam-bahkan bahwa, setiap pusat pendidikan itu harus tau kewajibanya sendiri-sendiri dan mengakui haknya pusat-pusat lainya. Ke-luarga merupakan ujung tombak dalam membentuk dasar budi pekerti dan perila-ku sosial. Perguruan sebagai balai-wiyata, yaitu usaha mencari dan memberikan ilmu pengetahuan, di samping pendidikan inte-lek. Pergerakan pemuda, sebagai daerah merdekanya kaum pemuda atau “kerajaan pemuda” untuk melakukan penguasaan diri, yang amat diperlukan untuk pemben-tukan watak atau karakter.

Biografi Driyarkara Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara SJ. La-hir di Kedunggubah, Kaligesing, Purwo-rejo, 13 Juni 1913 dan meninggal di Giri-sonta, Ungaran, Jawa Tengah, 11 Februari 1967 pada umur 53 tahun. Ajaran pokok Driyarkara yaitu "Manusia adalah kawan bagi sesama". Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini (homo homini socius). Pikiran homo homini socius ini ditaruh untuk mengkritik, me-ngoreksi, dan memperbaiki sosialitas pre-man; sosialitas yang saling mengerkah, me-mangsa, dan saling membenci dalam homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lain). Sampai tahun 1951 nama Driyarkara tidak dikenal. Hampir seluruh waktunya ia gunakan untuk studi secara intensif. Catatan harian yang ditulisnya se-jak 1 Januari 1941 sampai awal tahun 1950 tidak pernah lepas dari persoalan aktual-mendesak yang dihadapi manusia, khusus-nya rakyat Indonesia (Pratyanto, 2017). Karya publik awal tulisannya tidak langsung filosofis. Karya awalnya berupa catatan ringan dalam bahasa Jawa yang dimuat majalah Praba, sebuah mingguan berbahasa Jawa yang terbit di Yogyakarta yang disusul kemudian dengan Warung Podjok dengan nama samaran Pak Nala. Terbitnya majalah Basis tahun 1951 mem-buka peluang Driyarkara memperkenalkan ide-idenya ke masyarakat, mulanya de-ngan nama Puruhita, kemudian dengan nama lengkap Driyarkara. Cara penyajian-nya bergaya percakapan, setapak demi se-tapak membawa pembaca ke permenung-an filosofis. Saat mengasuh Basis, Driyarka-ra diserahi tugas menjadi Dekan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Sanata Dharma, embrio IKIP Sanata Dharma. Pidato per-tanggungjawabannya tentang kepentingan pendidikan guru memperoleh tanggapan luas, dan sejak saat itu (1955) selain dikenal sebagai filsuf, ia juga dikenal sebagai se-orang ahli pendidikan. Lewat tulisan, pi-dato, ceramah, dan kuliahnya, Driyarkara memberikan pencerahan proses pencarian jati diri bangsa. Misalnya, ketika gerakan mahasiswa marak pada tahun 1966, ialah pembela pertama hak mahasiswa dan pe-lajar untuk demonstrasi. Di tengah keada-an kritis dan buntu-mentok, ia tampil de-ngan gagasan menerobos lewat pemberian makna (Pratyanto, 2017). Riwayat Pendidikan dan Karier Dri-yarkara seperti berikut. ▪ Pada tahun 1952, ia mendapat gelar Doktor bidang Filsafat di Universitas Gregoriana dengan disertasi mengenai Nicolas Malebrance. ▪ 1941-1942, ia sudah mengajar sebagai dosen di Girisonta. ▪ 1943-1946, ia menjadi pengajar filsafat di Seminari Tinggi Yogyakarta. ▪ 1952-1958, setelah Ph.D., ia menjadi do-sen filsafat di Yogyakarta. ▪ 1960-1967, ia menjadi Guru Besar Luar Biasa di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia.

252

Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun IX, Nomor 2, Oktober 2019

▪ 1961-1967, ia menjadi dosen di Univer-sitas Hasanudin, Ujung Pandang (Ma-kassar). ▪ 1962-1967, ia menjadi anggota MPRS. ▪ 1963-1964, ia menjadi dosen tamu di Universitas St. Louis, Amerika Serikat. ▪ 1965-1967, ia menjadi anggota DPA RI.

Pendididikan Karakter Driyarkara

Driyarkara (1980:79) memberikan gambaran bagaimana aktivitas mendidik karater itu. Mendidik pada dasarnya juga mempunyai gambaran pada anak didik. Jadi, seolah dalam hal ini ada perbanding-an. Anak didik dilihat sebagai manusia dalam perjalan ke kemanusiaannya. Dalam menjelaskan pandangan ini, Ia mengajak untuk membayangkan anak yang berumur 4 atau 5 tahun. Anak itu belum bisa me-nempatkan diri dalam dunia manusia. Dia baru mulai memasuki dunia itu. Pendidik yang melihat yang demikian ini kiranya mengerti bahwa tingkah laku anak selalu bisa tidak pada tempatnya. Anak selalu di-lihat sebagai manusia yang berusaha ber-tindak sesuai dengan kemanusiaanya, te-tapi belum sampai. Dalam posisi yang de-mikian pendidik juga diharuskan memiliki pandangan manusia seperti yang diharus-kan.

Gambaran ini konkret menurut ke-budayaan yang ada, misalnya manusia ha-rus sopan dengan cara tertentu. Maka da-lam perbandingan ini pendidik harus me-nangkap bagaimana si anak berbuat, jika ia hendak memenuhi kodratnya sebagai ma-nusia, sesuai dengan kemampuan si anak itu. Si anak harus “memanusia” sebelum sebagai manusia “purnawarman”. Tetapi sesuai dengan umurnya si anak itu belum mandiri. Maka peran pendidik perlu supa-ya anak dapat bertindak sedemikian rupa, hingga anak bertindak seperti yang dimak-sud itu (Driyarkara, 1980:79).

Driyarkara mengatakan bahwa pen-didik bertindak, anak bertindak, tetapi dua tindakan ini seolah-olah mengalir mema-suki anak, dan anak menjelmakan perbuat-an itu terhadap dirinya sendiri, menurut ukuran anak. Maka perbuatan anak itu sesuai dengan taraf insani menjadi human. Si anak dalam hal ini memanusia dan se-kaligus pendidikan memanusiakanya, si anak tidak pasif. Ia berbuat seperti ibunya berbuat, ia mengidentfikasikan diri dengan ibunya, dan dalam identifikasi ini ia me-rasa berbuat yang sebenarnya. Ibu (pendi-dik) seolah menyelam dalam anaknya, bu-kan untuk menghilangkan perbuatan anak-nya, melainkan sebaliknya supaya anak ber-buat. Ia mengidentifikasikan diri dengan anaknya supaya anak menemukan dirinya.

Misalnya, ketika anak harus menga-takan sesuatu. Anak belum bisa, meskipun sedikit demi sedikit mengerti yang harus dikatakan. Anak belum mengerti kata-kata yang harus digunakan, belum mengerti cara membuat kalimat yang diperlukan. Maka ibulah yang memberi kata-kata, ibulah yang mengucapkan kalimat, bahkan dengan cara kekanak-kanakan. Si anak kemudian meni-runya untuk mengucapkan kata-kata itu. Dan kalimat itu menjadi kalimat dari anak itu. Dalam contoh ini ibu memanusiakan anak dengan membuatnya “membahasa”.

Pada paparan ini selalu dibayangkan anak masih kecil. Tetapi dengan perubahan seperlunya isi gambaran ini berlaku juga bagi bagi anak didik yang sudah lebih be-sar. Makin besar si anak, makin mulai ber-dikarilah dia, sehingga semakin berbuat sendiri. Tetapi selama berposisi sebagai anak didik, selama belum bisa bertanggung jawab sendiri, belum cukup pertumbuh-anya sehingga mempunyai otonomi, sela-ma itu juga ia masih berada pada proses pe-manusia-an (Driyarkara, 1980:80).

253

Pendidikan Karakter Menurut Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara

Hominisasi dan humanisasi sebagai proses pendidikan karakter. Proses homini-sasi (Driyarkara, 1980:82) yaitu proses ke-menjadian manusia secara alami, artinya proses terjadinya manusia mulai dari kan-dungan ibunya, yang kemudian berkem-bang mendapat bentuk manusia dalam por-si kecil dan lahir menjadi bayi, meskipun sebagai bayi manusia barun itu toh tetap belum bisa bertindak sebagai manusia. Ia perlu tumbuh dan berproses untuk sampai pada kemanusiaanya. Manusia bukanlah makhluk biologis, melainkan seorang pri-badi atau person, seorang subjek, artinya mengerti diri, menempatkan diri dalam si-tuasinya, mengambil sikap dan menentu-kan dirinya: nasibnya ada di tangan sen-diri.

Hominisasi tidak pernah lepas dari humanisasi. Humanisasi biasanya merujuk pada perkembangan yang lebih tinggi. Jika-lau hanya mengingat arti kata human, ber-arti sesuai dengan kodrat manusia, jadi sama denga insani atau manusiawi. Ting-kat humanisasi merupakan tingkat kebu-dayaan yang lebih tinggi. Manusia itu mengangkat alam menjadi alam manusia-wi. Tanah menjadi ladang, tumbuh-tum-buhan menjadi tanaman, barang-barang materi menjadi alatnya, rumahnya, pakaia-nya (Driyarkara, 1980: 83). Sebagai contoh humanisasi, dalam lingkungan tani anak kecil sudah sering ikut ke sawah atau la-dang. Semula hanya untuk ikut saja, untuk melihat. Lama-lama anak ikut kerja sedikit demi sedikit. Kelak malahan mendapat tu-gas kecil-kecil, dalam hal ini apa yang di-lihat? Proses pemanusiaan anak. Tetapi da-lam bentuk yang tertentu. Dalam tindakan ayah itu termuat tindakan bahwa manusia harus menjadi pembuat produksi (Driyar-kara, 1980:87). Selain itu, dapat dimaknai juga bahwa dalam hal ini humanisasi me-rupakan proses pendidikan karakter yang paling dasar pada anak, yang nantinya akan berpengaruh pada kehidupan anak kelak di masyarakat dan negara.

Dari uraian di atas dapat ditarik se-buah pemahaman bahwasanya intisari men-didik ialah pe-manusia-an manusia-muda yaitu hominisasi dan humanisasi. Selain itu, teranglah mengapa pendidikan atau mendidik disebut perbuatan fundamental atau yang mengubah, menentukan dan mengkonstruksi hidup manusia. Sebab men-didik itu memanusiakan manusia (muda), karena mendidik itu hominisasi dan huma-nisasi. Perbuatan yang menyebabkan ma-nusia menjadi manusia, sudah sewajarnya diakui dan dinyatakan sebagai perbuatan fundamental (Driyarkara, 1980: 87) karena pada proses ini pendidikan karakter telah terjadi, yaitu penanaman dan pembentuk-an sikap dasar budi pekerti anak.

Pendidikan karakter yang paling fun-damental dapat dibentuk dalam kesatuan tri tunggal yaitu ayah-ibu-anak. Bagi ma-nusia berketurunan tidak hanya berarti me-lahirkan secara biologis. Dengan hanya me-lahirkan ia belum menurunkan secara in-sani. Melahirkan secara bilologis harus di-lanjutkan dengan melahirkan secara insani, dalam hal ini membawa anak ke tingkat manusia dan ini berarti pendidikan karak-ter dasar. Untuk tugas ini ayah dan ibu se-olah bersedia lahir dan batin maka tim-bulah kesatuan antara anak dan orang tua, yang tidak bisa diganti. Jadi, pendidikan adalah hidup bersama dalam kesatuan tri-tunggal ayah-ibu-anak, yang di situ terjadi pe-manusiaan-anak, dengan mana dia ber-proses untuk akhirnya memanusia sendiri sebagai manusia purnawarman (Driyarka-ra, 1980:129). Pendidikan karakter dalam hal ini terjadi dalam proses tritunggal itu dari menyatunya ayah-ibu-anak sampai pada taraf purnawarman, yaitu di mana karakter anak terbentuk ia mampu mema-

254

Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun IX, Nomor 2, Oktober 2019

hami dirinya sendiri sebagaimana ia men-jadi manusia pada umumnya yang bebas dan bertanggung jawab.

Pandangan Progresivisme

Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivis-me dalam semua realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi tantang-an hidup. Aliran ini disebut juga instru-mentalisme karena beranggapan bahwa ke-mampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan dan un-tuk mengembangkan kepribadian manusia. Selain itu, aliran ini disebut juga sebagai environmentalisme, karena aliran ini meng-anggap lingkungan hidup itu mempenga-ruhi pembinaan kepribadian (Jalaludin dan Idi, 2012: 24; Fadlillah, 2017).

Aliran progresivisme telah memberi-kan sumbangan yang besar terhadap dunia pendidikan pada abad ini. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik mau-pun dalam hal cara berpikir, guna me-ngembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam di dalam dirinya tanpa terham-bat oleh orang lain (Ali, 1990:146). Filsafat progresivisme tidak sepakat dengan pen-didikan yang otoriter. Sebab pendidikan yang otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi yang gembira menghadapi pelajaran dan mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik (Jalaluddin dan Idi, 2012:90; Fadlillah, 2017)

Selain hal di atas filsafat progresivis-me memandang kebudayaan sebagai hasil budi manusia yang dikenal sepanjang seja-rah sebagai kepunyaan manusia yang tidak beku, melainkan selalu dinamis. Maka pen-didikan sebagai usaha manusia yang meru-pakan refleksi dari kebudayaan harus seji-wa dengan kebudayaan tersebut (Barnadib, 1992:24; Fadlillah, 2017). Filsafat pogresivis-me mempunyai konsep bahwa anak didik memiliki akal dan kecerdasan yang oleh karena itu menjadi potensi kelebihan ma-nusia dibanding dengan makhluk lain. De-ngan potensi yang bersifat kreatif tersebut anak dididik mempunyai bekal untuk meng-hadapi dan memecahkan problem-problem-nya (Jalaluddin dan Idi, 2012:90-91; Fadlil-lah, 2017).

Barnadib (1992:25) menjelaskan bah-wa progresivisme menghendaki pendidik-an yang progresif. Tujuan pendidikan di-artikan sebagai rekontruksi pengalaman yang secara terus-menerus. Pendidikan bu-kan hanya menyampaiakan pengetahuan kepada anak didik saja, melainkan yang paling utama adalah melatih kemampuan anak berpikir secara ilmiah. Semua itu di-lakukan dengan pendidikan supaya orang mengalami progress. Dengan demikian, orang akan bertindak dengan intelegensi sesuai dengan tuntutan dari lingkungan dimana ia berada.

Dengan berbagai penjelasan di atas kiranya dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa aliran progresivisme merupakan alir-an yang ingin menekankan pada sebuah progress. Intelegensi manusia sangat dihar-gai sebagai salah satu indikator penting dalam pendidikan. Selain itu, faktor ling-kungan menjadi amat penting karena nan-tinya lingkungan itu yang membetuk ka-rakter intelegensi anak didik.

Tinjauan Progresivisme terhadap Kompa-rasi Pendidikan Karakter Ki Hadjar De-wantara dan Driyarkara

Pendidikan Progresivisme mengang-gap pendidikan bukanlah hanya menyam-paiakan pengetahuan kepada anak didik saja, melainkan yang paling utama adalah melatih kemampuan anak berpikir secara

255

Pendidikan Karakter Menurut Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara

ilmiah. Semua itu dilakukan dengan pen-didikan supaya orang mengalami progress. Dengan demikian, orang akan bertindak dengan intelegensi sesuai dengan tuntutan dari lingkungan di mana ia berada.

Pendidikan karakter Ki Hadjar De-wantara dan Driyarkara keduanya memi-liki kesamaan padangan dan sekaligus per-bedaan dalam beberapa hal. Pendidikan ka-rakter menurut Ki Hadjar Dewantara me-rupakan proses penanaman nilai budi pe-kerti yang luhur pada anak. Budi pekerti, watak, atau karakter adalah bersatunya ge-rak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan, yang kemudian berproses men-jadi tenaga. Budi berarti “fikiran, perasaan, kemauan” dan pekerti artinya “tenaga”. Jadi, budi pekerti adalah sifatnya jiwa ma-nusia, mulai dari angan-angan hingga ter-jelma sebagai tenaga. Pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara nampak progresif karena dalam prosesnya mengunakan tiga instrumen dasar, yaitu keluarga, perguru-an dan juga pergerakan pemuda.

Anak tidak dijadikan subjek yang pa-sif melainkan aktif mengembangkan karak-ternya. Tiga instrumen dasar yaitu keluar-ga, perguruan dan pergerakan pemuda menjadi dasar instrumen pembentuk budi pekerti (karakter) anak. Keluarga merupa-kan tahap awal tempat segala hal yang alamiah muncul dan terbentuk, terkait de-ngan naluri dasariah, mengenai kekalnya keturunan yang menunjukkan bahwa tiap-tiap manusia selalu berusaha mendidik anak-anak dengan sesempurna mungkin baik dalam hal rohani maupun jasmani.

Tahap selanjutnya yaitu tahap pergu-ruan tempat mendidik kecerdasan intelek-tual anak yaitu dalam upayanya mencer-daskan pikiran dan pemberian ilmu penge-tahuan. Hal ini bisa dilakukan dengan ba-lai perguruan yang tidak terlepas dari ling-kungan keluarga. Artinya, sistem sekolah juga harus berkesinambungan dengan pen-didikan dalam keluarga, supaya tidak ter-jadi keterpisahan pendidikan budi pekerti dan budi kemasyarakatan.

Tahap ketiga yaitu tahap alam pemu-da. Tahap ini merupakan tahap tempat per-gerakan ini menjadi penyokong teramat besar pada pendidikan, baik dalam kecer-dasan jiwa atau budi pekerti, maupun pada kesosialan (Tamansiswa, 2013:74) dalam hal ini pergerakan pemuda membuat anak aktif dan selalu berproses untuk menemu-kan jati dirinya tanpa lepas dari kontrol orang tua, sehingga kedewasaan anak da-lam budi pekerti dan jiwa sosialnya akan terbentuk dengan pergerakan pemuda ter-sebut.

Tokoh lain yang menekankan progre-sivisme dalam pendidikan budi pekerti ya-itu Driyarkara. Ia menekankan bahwa pen-didikan budi pekerti (karakter) bisa dilaku-kan dengan cara hominisasi dan humani-sasi. Hominisasi artinya proses pemben-tukan manusia secara alamiah dari lahir menuju terbentuknya manusia dewasa, yang tidak kalah penting seiring dengan terbentuknya manusia secara alami yang di sini terjadi proses humanisasi. Humanisasi merupakan tahapan yang lebih tinggi, pada taraf ini manusia pada kodratnya, ya-itu taraf insani atau manusiawi, manusia dididik menjadi manusia sebagaimana ma-nusia semestinya.

Menurut Driyarkara pendidikan budi pekerti (karakter) dapat dibentuk dalam kesatuan tri tunggal yaitu ayah-ibu-anak. Bagi manusia berketurunan melahirkan itu tidak hanya secara biologis melainkan juga melahirkan secara insani. Artinya, setelah terjadi proses melahirkan biologis, juga perlu kiranya menlanjutkannya dengan me-lahirkan secara insani, dalam hal ini mem-bawa anak kepada tingkat manusia. Taraf ini merupakan peletakan karakter dasar

256

Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun IX, Nomor 2, Oktober 2019

pada anak. Pada diri ayah-ibu-anak dalam hal ini terjadi ikatan lahir dan batin sehing-ga tercipta kesatuan yang tidak bisa digan-ti, sehingga nanti anak akan tumbuh men-jadi manusia purnawarman, yang mampu memahami eksistensinya sebagai manusia.

Adapun persamaan dan perbedaan pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara sebagai berikut. Pertama, persamaan kedua tokoh ini yaitu terkait dengan peletakan instrumen dasar pendi-dikan yaitu keluarga sebagai yang paling awal. Ada kesamaan konsep menurut ke-dua tokoh tersebut bahwa keluarga meru-pakan peletak dasar budi pekerti (karakter) pada jiwa anak. Sebelum anak mendapat pendidikan pada taraf yang lebih tinggi atau di luar pendidikan keluarga. Pertama-tama menurut kedua tokoh ini perlu kira-nya keseriusan pendidikan di keluarga di-tekankan agar karakter dasar anak terben-tuk dengan baik.

Kemudian perbedaanya, Ki Hadjar Dewantara lebih menekankan tiga instru-men dasar yang berkelanjutan, yaitu ke-luarga, perguruan, dan pergerakan pemu-da, karena ketiga instrumen tersebut me-miliki peran yang berbeda-beda dalam me-ngembangkan karakter anak didik. Driyar-kara cenderung lebih menekankan instru-men kesatuan aya-ibu-anak sebagai satu kesatuan dasar dalam penanaman karakter dasar pada anak, karena menurutnya jika ayah-ibu-anak sudah menyatu makan akan tercipta suatu keadaan yang membuat anak bisa dengan progresif mengembangkan ka-rakter dasar sekaligus juga penanaman ka-rakter oleh ayah dan ibunya.

Kelebihan dan kekurangan pendidik-an karakter Ki Hadjar Dewantara dan Dri-yarkara sebagai berikut. Kelebihan pendi-dikan karakter Ki Hadjar Dewantara yaitu adanya kesesuaian yang konsisten dan pro-gresif dalam ketiga tahap perkembangan karakter dasar anak, yang dimulai dari ke-luarga sebagai peletak dasar karakter, ke-mudian perguruan sebagai penguat kecer-dasan anak sekaligus mengasah karakter anak, dan yang ketiga dalam lingkungan pergerakan pemuda sebagai lahan untuk mengembangkan karakter kesosialan anak. Kekurangan pendidikan karakter Ki Ha-djar Dewantara, yaitu sangat sulitnya me-ngontrol agar ketiga instrumen yang meli-puti keluarga, perguruan, dan pergerakan pemuda tetap konsisten. Tetapi jika ketiga-nya bisa konsisten akan berdampak baik pada karakter anak didik.

Kelebihan pendidikan karakter Dri-yarkara, yaitu Driyarkara mencoba untuk menggunakan progresivitas ikatan ayah-ibu-anak sebagai dasar dalam membentuk karakter dasar anak. Karena dengan ada-nya ikatan yang kuat antara ayah-ibu-anak akan tercipta suatu keserasian yang mem-buat anak mampu mengembangkan poten-si dasar yang ada pada dirinya, kemudian ayah-ibu akan menjadi alat kontrol yang tepat terhadap anak didiknya. Tugas ayah-ibu mengawasi dan menanamkan nilai-nilai keteladanan pada diri anak. Keku-ranganya, Driyarkara cenderung menekan-kan aspek keluarga dan kurang memper-hatikan aspek sosial, dan kepemudaan se-bagaimana Ki Hadjar Dewantara. Karena pada dasarnya karakter juga bisa terbentuk tidak hanya melalui instrumen keluarga saja, masih ada instrumen lain yang ber-peran seperti masyarakat dan organisasi sosial lainya.

Pendidikan karakter Ki Hadjar De-wantara dan Driyarkara kiranya relevan dengan pendidikan di Indonesia apabila dipadukan sebagai upaya penanaman pen-didikan karakter di dalam masyarakat In-donesia (Nova, 2017). Dengan memulai dari lingkungan keluarga karakter dasar masya-rakat Indonesia akan terbentuk, setelah

257

Pendidikan Karakter Menurut Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara

lingkungan keluarga dan selanjutnya ber-alih pada lingkungan sekolah. Di dalam lingkungan sekolah karakter anak tersebut akan terasah dan bertambah dengan ada-nya pendidikan dari guru. Setelah ling-kungan sekolah, pendidikan karakter ke-mudian beralih pada lingkungan pergerak-an pemuda. Di sanalah jiwa karakter anak akan teruji dan terbentuk sesuai dengan kemampuan dan kemauan anak didik.

PENUTUP

Berdasarkan uraian hasil dan pemba-hasan di atas dapat disimpulkan, Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa budi peker-ti atau watak yaitu bulatnya jiwa manusia, yang dalam bahasa asing disebut ”karak-ter” sebagai jiwa yang berasas hukum ke-batinan. Orang yang telah mempunyai ke-cerdasan budi pekerti senantiasa memikir-kan dan merasakan serta memakai ukuran, timbangan, dan dasar yang pasti dan tetap. Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan karakter dapat ditempuh melalui trisentra karena di dalam kehidupan anak-anak ada tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya ya-itu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda.

Adpaun menurut Driyarkara pendi-dikan karakter merupakan proses homini-sasi dan humanisasi sebagai proses pendi-dikan karakter. Proses hominisasi yaitu proses kemenjadian manusia secara alami. Hominisasi tidak pernah lepas dari huma-nisasi. Humanisasi biasanya merujuk pada perkembangan yang lebih tinggi. Jikalau hanya mengingat arti kata human, berarti sesuai dengan kodrat manusia, sehingga sama dengan insani atau manusiawi. Pada tingkat humanisasi, pendidikan karakter yang paling fundamental dapat dibentuk dalam kesatuan tritunggal yaitu ayah-ibu-anak. Pendidikan karakter dalam hal ini terjadi dalam proses tritunggal itu dari me-nyatunya ayah-ibu-anak sampai pada taraf purnawarman, yaitu pada saat karakter anak terbentuk ia mampu memahami diri-nya sendiri sebagaimana ia menjadi manu-sia pada umumnya yang bebas dan ber-tanggung jawab.

Pendidikan karakter Ki Hadjar De-wantara dan Driyarkara kiranya relevan dengan pendidikan di Indonesia apabila dipadukan sebagai upaya penanaman pen-didikan karakter di dalam masyarakat In-donesia. Ini dimulai dari lingkungan ke-luarga sebagai peletak karakter dasar, ke-mudian lingkungan sekolah atau perguru-an sebagai tempat melatih intelektual so-sial, dan juga pergerakan pemuda sebagai ajang menampilkan karakter anak didik se-kaligus tempat mencetak karakter anak didik dengan tidak meninggalkan kontrol dari sang pendidik.

UCAPAN TERIMA KASIH

Dengan mengucap Alhamdulillah pe-nulis bersyukur kepada Allah SWT. atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan artikel ini. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelan-cara penulisan artikel ini. Terutama kepada seluruh jajaran anggota Dewan Redaksi Jurnal Pendidikan Karakter. Semoga Allah se-nantiasa memberikan berkah-Nya di dunia dan di akhirat kelak.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, H. (1990). Filsafat pendidikan. Yogya-karta: Kota Kembang.

Aziz, A.RA. (2016). Konsep hominisasi dan humanisasi menurut Driyarkara. AL-A’RAF: Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat, 13(1), 127-148. DOI: 10.22515/-ajpif.v13i1.39.

258

Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun IX, Nomor 2, Oktober 2019

Bakker & Zubair. (1990). Metodologi peneli-tian filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Barnadib, I. (1982). Filsafat pendidikan. Yog-yakarta: Kanisius.

---------------. (1992). Pendidikan perbandingan. Yogyakarta: Gunung Agung.

Driyarkara, (1980). Driyarkara tentang pendi-dikan. Yogyakarta: Kanisius.

Husaini, A. (2010). Pendidikan karakter: pen-ting, tapi tidak cukup! Bogor: Program Pascasarjana Universitas Ibnu Khal-dun. Idris, R. (2017). Perubahan sosial budaya dan ekonomi Indonesia dan pengaruh-nya terhadap pendidikan. Lentera Pen-didikan: Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Kegu-ruan, 14(2), 219-231. DOI: 10.24252/lp.-2011v14n2a7.

Jalaluddin & Idi, A. (2012). Filsafat pendidik-an: Manusia, filsafat dan pendidikan. Ja-karta: Rajawali Press.

Ningrum, D. (2015). Kemerosotan moral di kalangan remaja: Sebuah penelitian mengenai parenting styles dan peng-ajaran adab. UNISIA: Jurnal Ilmu-ilmu Sosial, 37(82), 18-30. Diunduh dari: https://journal.uii.ac.id/Unisia/article/view/10491/8171.

Ningsih, T. (2015). Implementasi pendidikan karakter. Purwokerto: STAIN Press.

Nova, M. (2017). Pendidikan karakter di kelas EFL Indonesia: Implementasi dan hambatan. Jurnal Pendidikan Karak-ter, 7(2), 142-157. DOI: 10.21831/jpk.-v7i2.13650.

Pratyanto, R.N. (31 Juli 2017). Biografi sin-gkat Prof. Dr. N. Driyarkara, SJ. Diambil pada tanggal 11 Juni 2019, dari http://www.driyarkara.ac.id/index.php/component/k2/item/55-biografi-singkat-prof-dr-n-driyarkara-sj.

Suparlan, H. (2015). Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan sumbanganya bagi pendidikan di Indonesia. Jurnal Filsafat, 24(1), 56-74. DOI: 10.22146/jf.-12614.

Suroso. (2011). Pemikiran Ki Hadjar De-wantara tentang belajar dan pembe-lajaran. Scholaria, 1(1), 46-72.

Tamansiswa, M.L. (2013). Ki Hadjar Dewan-tara: Pemikiran, konsepsi, keteladanan, si-kap merdeka Jilid 1. Yogyakarta: UST-Press.

Zainuddin. (2008). Reformasi pendidikan: kritik kurikulum dan managemen berbasis sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ANALISIS JURNAL

Oleh : Raditya Bagus Pamungkas

Npm: 19144600011 Universitas PGRI Yogyakarta Email : raditapamungkas@gmail.com

 

A. IDENTITAS JURNAL

1. Nama Jurnal : Jurnal Pendidikan Karakter

2.  Nomor : 2

3. Halaman : 14

4. Tahun Penerbit : 2019

5. Judul Jurnal : PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT KI HADJAR DEWANTARA

DAN DRIYARKARA

6. Nama Penulis : Agam Ibnu Asa

 

B. PENDAHULUAN JURNAL

            Dalam pendahuluan jurnal ini, penulisan dan tata bahasa yang digunakan sudah lumayan baik, sudah disebutkan juga sedikit tentang tujuan pembuatan jurnal ini, Secara sosiologis pendidikan merupa-kan sebuah upaya penerusan nilai-nilai ke-budayaan dari generasi yang lebih tua ke-pada generasi yang lebih muda.

C. TUJUAN PENELITIAN

            Seiring perkembangan zaman yang sangat pesat, pendidikan juga ikut meng-alami perkembangan yang begitu pesat pula. Kecanggihan teknologi dan informasi mem-buat dunia pendidikan semakin modern dan menyesuaikan dengan globalisasi. Per-soalan yang muncul dengan perubahan za-man ini, yaitu merosotnya karakter gene-rasi muda yang semakin memprihatinkan karena dianggap menyimpang jauh dari nilai-nilai yang hidup di Indonesia.

D. METODE PENELITIAN

            Penelitian ini merupakan penelitian komparatif. Penelitian ini membandingkan dua atau lebih filsuf atau aliran. Penelitian ini membandingkan dua pandangan tokoh yaitu Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara tentang pendidikan karakter (budi pekerti). Nantinya penelitian ini akan mengarah pada pencarian persamaan dan perbedaan pandangan pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara dan Driyarkara, kemudian men-cari kelebihan dan kekurangan pandangan dua tokoh tersebut dan menarik relevansi-nya bagi pendidikan di Indonesia.

E. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

            Muslich menegaskan bahwa karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwu-jud dalam pikiran, sikap, perasaan, perka-taan, dan perbuatan berlandaskan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Pendidikan karakter ada-lah suatu sistem penanaman nilai-nilai.

            Karakter dapat dibentuk salah satu-nya dengan pendidikan. Pendidikan meru-pakan perbuatan fundamental karena pen-didikan mengubah dan mengonstruksi per-buatan manusia, karena mendidik itu me-manusiakan manusia (muda), karena men-didik itu perbuatan hominisasi dan huma-nisasi.

F. KESIMPULAN

            Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa budi peker-ti atau watak yaitu bulatnya jiwa manusia, yang dalam bahasa asing disebut ”karak-ter” sebagai jiwa yang berasas hukum ke-batinan. Orang yang telah mempunyai ke-cerdasan budi pekerti senantiasa memikir-kan dan merasakan serta memakai ukuran, timbangan, dan dasar yang pasti dan tetap. Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan karakter dapat ditempuh melalui trisentra karena di dalam kehidupan anak-anak ada tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya ya-itu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda.

            Adpaun menurut Driyarkara pendi-dikan karakter merupakan proses homini-sasi dan humanisasi sebagai proses pendi-dikan karakter. Proses hominisasi yaitu proses kemenjadian manusia secara alami. Hominisasi tidak pernah lepas dari huma-nisasi. Humanisasi biasanya merujuk pada perkembangan yang lebih tinggi. Jikalau hanya mengingat arti kata human, berarti sesuai dengan kodrat manusia, sehingga sama dengan insani atau manusiawi. Pada tingkat humanisasi, pendidikan karakter yang paling fundamental dapat dibentuk dalam kesatuan tritunggal yaitu ayah-ibu-anak.

G. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Kelebihan :

Mahasiswa dapat mengerti apa itu pendidikan karakter dan nilai nilai positif yang telah Ki Hajar Dewantara dan Drikarya paparkan.

Kekurangan :

            Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mempraktekan apa yang telah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantoro dan Drikarya

 

H. DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, H. (1990). Filsafat pendidikan. Yogya-karta: Kota Kembang.

Aziz, A.RA. (2016). Konsep hominisasi dan humanisasi menurut Driyarkara. AL-A’RAF: Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat, 13(1), 127-148. DOI: 10.22515/-ajpif.v13i1.39.

258

Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun IX, Nomor 2, Oktober 2019

Bakker & Zubair. (1990). Metodologi peneli-tian filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Barnadib, I. (1982). Filsafat pendidikan. Yog-yakarta: Kanisius.

---------------. (1992). Pendidikan perbandingan. Yogyakarta: Gunung Agung.

Driyarkara, (1980). Driyarkara tentang pendi-dikan. Yogyakarta: Kanisius.

Husaini, A. (2010). Pendidikan karakter: pen-ting, tapi tidak cukup! Bogor: Program Pascasarjana Universitas Ibnu Khal-dun. Idris, R. (2017). Perubahan sosial budaya dan ekonomi Indonesia dan pengaruh-nya terhadap pendidikan. Lentera Pen-didikan: Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Kegu-ruan, 14(2), 219-231. DOI: 10.24252/lp.-2011v14n2a7.

Jalaluddin & Idi, A. (2012). Filsafat pendidik-an: Manusia, filsafat dan pendidikan. Ja-karta: Rajawali Press.

Ningrum, D. (2015). Kemerosotan moral di kalangan remaja: Sebuah penelitian mengenai parenting styles dan peng-ajaran adab. UNISIA: Jurnal Ilmu-ilmu Sosial, 37(82), 18-30. Diunduh dari: https://journal.uii.ac.id/Unisia/article/view/10491/8171.

Ningsih, T. (2015). Implementasi pendidikan karakter. Purwokerto: STAIN Press.

Nova, M. (2017). Pendidikan karakter di kelas EFL Indonesia: Implementasi dan hambatan. Jurnal Pendidikan Karak-ter, 7(2), 142-157. DOI: 10.21831/jpk.-v7i2.13650.

Pratyanto, R.N. (31 Juli 2017). Biografi sin-gkat Prof. Dr. N. Driyarkara, SJ. Diambil pada tanggal 11 Juni 2019, dari http://www.driyarkara.ac.id/index.php/component/k2/item/55-biografi-singkat-prof-dr-n-driyarkara-sj.

Suparlan, H. (2015). Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan sumbanganya bagi pendidikan di Indonesia. Jurnal Filsafat, 24(1), 56-74. DOI: 10.22146/jf.-12614.

Suroso. (2011). Pemikiran Ki Hadjar De-wantara tentang belajar dan pembe-lajaran. Scholaria, 1(1), 46-72.

Tamansiswa, M.L. (2013). Ki Hadjar Dewan-tara: Pemikiran, konsepsi, keteladanan, si-kap merdeka Jilid 1. Yogyakarta: UST-Press.

Zainuddin. (2008). Reformasi pendidikan: kritik kurikulum dan managemen berbasis sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Komentar