Analisis Buku Ki Hajar Dewantara

 

Kelompok 5

Nama              : Mochammad Sulthon           (19144600007)

                          Raditya Bagus Pamungkas   (19144600011)

                          Husen Fakhsrusy Syakirin    (19144600025)

                          Hendrik Pradana                   (19144600028)

                          Hanif Fareyza                       (19144600031)

                          Irfan Rahmawanto                (20144600224)

 

Ilmu Adab atau Ethik

A.    Pengertian Umum

            Ilmu adab atau ethik ialah ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak – gerik fikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan.

            Ethik berasal dari kata “ethos” dan berarti “watak”, adab berarti “keluhuran budi”. Ilmu adab adalah sebagian dari ilmu “filsafat”, bagian yang terpenting karena mengenai hidup manusia, yang kesaktiannya menjajari kekuatan alam serta dapat berakibat kemajuan hidup (evolusi) dan menuju kearah kesempurnaan hidup (bersatu dengan Tuhan).

a)     Filsafat ialah ilmu tentang ke-tahuan (kawikan, pangawikan) dimana termasuk 3 bagian yang terpenting, yakni : hal “tahu”, hal “ilmu”, dan hal “manusia” bagian inilah yang dinamakan “ethik”; bagian “ilmu” disebut “metafysica” sedangkan soal “tahu” (berfikir, logika, mengerti, insyaf, percaya, yakin, dan sebagainya) termasuk dalam ilmu-jiwa atau phychologi.

b)    Sebagai “ilmu” maka ethik itu harus “bersistim” dan pula “bermethode”; dalam pada itu selalu diutamakan “obyektivitet” dan “eksperimen.”

c)     Sebagai ilmu “kemanusiaan” maka ethik mempelajari tentang “kebajikan” dengan sendiri mendapat pengaruh besar daripada ilmu ke Tuhanan dan selalu berhubungan dengan ilmu pendidikan dan kehakiman.

            “Sistim dan Methodenleer” daripada ethik selalu mengikuti jalan hidup ilmu pengetahuan lainnya, teristimewa yang termasuk dalam golongan ilmu – ilmu filsafat, yaitu : melalui sifat utuh sederhana (primitif), analisa (mementingkan bagian – bagiannya), tersesat (menimbulkan teori – teori yang saling bertentangan), shintese (membentuk persatuan), totalitet atau globalitet (utuh sempurna).

 

Apakah kebaikan itu ?

 

1      Soal “kebaikan” dan “kejahatan” bergantung pada masing – masing individu, sesuai dengan sifat kejiwannya dan kejasmaniannya, mulai dari “genotype” sampai “phaenotypenya”, jadi merupakan type sendiri, yakni mempunyai pandangan hidup sendiri.

Sifat daripada “type” atau “jenis” manusia itu didalam karakterologi ditetapkan menurut dasar – dasar dan ukuran – ukuran seperti berikut :

a)     Dasar normatif

b)    Dasar phychologis

c)     Dasar psycho-fisiologis

d)    Pengaruh onderbewustzijn

e)     Dasar Keturunan

2      Berhubung dengan sifat jiwa manusia, yang berjenis – jenis itu, dengan selalu adanya pemandangan hidup dan sikap jiwa masing – masing, maka banyaklah aliran – aliran tentang “baik” atau “jahat” didunia, antara lain sebagai yang disebut di bawah ini :

a)     Aprorisme : tentang baik jahatnya tiap – tiap manusia menurut kodrat-idaratnya.

b)    Empirisme : tidak tetap, tetapi menurut moral jamannya, pengalaman – pengalaman riwayat adab, agama, kehakiman, anthropologi, ethnologi.

c)     Evolutionisme : idem seperti empirisme, tetapi harus ada kemajuan.

d)    Ethis individulisme : tiap – tiap individu mempunyai sifat sendiri – sendiri

e)     Ethis universalisme : individu hanya sifat khususnya masyarakat

f)     Autonomie : tiap – tiap individu dianggap berjiwa – kuasa

g)    Heteronomie : individu dapat kekuatan – kekuatan dari luar

h)    Formeel : hukum ethik harus konsekuen

 

Tentang Adat Istiadat

1      Adat dari bahasa Arab, berarti “kebiasaan”, sedangkan yang dinamakan adat – istiadat ialah “adat yang diadatkan”, yaitu kebiasaan yang dianggap baik oleh khalayak dan dengan agak sengaja diperbaiki dan sebagai peraturan umum diakui kekuatan ikatannya untuk dan oleh seluruh rakyat si sesuatu daerah atau tempat.

Disamping adat istiadat ada pula hukum adat, yaitu peraturan kehakiman yang resmi yang disandarkan pada adat istiadat disesuatu tempat.

2      Meskipun adat – istiadat itu bukan peraturan yang tertulis, tidak terjadi atas perundingan dan kemufakatan antara perwakilan rakyat dengan pemerintah, pun tidak diperintahkan pula oleh sesuatu badan pemerintah, tetapi pada umumnya rakyat mengakui kebaikannya, kebenarannya, dan kekuasaannya.

3      Untuk dapat mengerti kedudukan adat – istiadat itu, maka harus diingat bahwa pada hakekatnya segala adat istiadat itu terjadi karena hasrat tiap – tiap manusia untuk hidup didalam dan dengan masyarakatnya secara tertib dan damai.

4      Bila ditilik sifat bentuk daripada adat-istiadat, maka tidak saja nampak kesatuannya dalam arti “kebudayaan” yang khusus atau istimewa untuk sesuatu negeri, yaitu sifat nasional.

5      Pandangan psychologi

a)     Segala kejadian didalam hidup manusia dinamakan perbuatan, yang berati bahwa manusia dapat memilih dengan memeprgunakan pertimbangan, perasaan, dan kemauan)

b)    Perbuatan itu tidak saja bersifat “wilshandelling”(karena kemauan) tetapi dapat pula bersifat : reflex, automatismen, nabootsingsdwang handeling.

c)     Sebelum bersifat “kemauan”, maka yang ada didalam jiwa manusia ialah “ dorongan yang lalu menjadi keinginan dan sesudah melalui gerak fikiran baru menjadi kemauan yang pasti.

d)    Hubungan “kemauan” dengan “perasaan” itu sangat eratnya; perasaan seolah – olah corak warnanya kemauan dan perbuatan. Sifat – sifat perasaan : Kejasmanian, angan – angan, keindahan, keadaban, keagamaan, rasa diri, kesosialan

e)     Disamping dan perasaan – perasaan itu ada pula kekuasaan jiwa untuk melakukan segala laku sederhana untuk dapat melakukan segala apa yang perlu untuk hidupnya.

f)     Arti maksud “kebiasaan” dalam phychologi : menghemat

6      Uraian tentang terjadinya kebudayaan, adat – istiadat, ada sebagian daripada kebudayaan.

7      Berturut – turut agama hindu dan islam memberi pengaruh – pengaruhnya yang kuat, menyelami hidup batin dan lahir; keadaan barat hanya diterima oleh lapisan atasan dan hanya yang mengenai alam fikiran.

 

Pengajaran Adab Didalam Perguruan

A. Apakah adab itu

      Adab yaitu sifat ketertiban (tata) didalam hidup manusia, lahir dan batin, hingga hidup manusia itu terlihat berbeda dengan hidup dari makhluk-makhluk lainya. Tidak ada satu bangsa yang lengkap baik dalam segala-galanya.

 

B. Bahayanya sistim kenadlaran

      Sistim sekolah keberatan itu hampir semata-mata mengutamakan pendidikan intellektual, yaitu pendidikan fikiran menimbulkan “intelektuallisme”, yaitu jiwa kenadlaran, yang lalu mengadakan alam kenadlaran, dalam mana intelleklah yang berkuasa dalam jiwa manusia, sedangkan sewutuhnya “budi” terdesak kebelakang (diktattur intellek).

 

C. Pengajaran adab

      Pengajaran adab itu bermaksud memberi macam-macam pengajaran, agar sewutuhnya jiwa anak terdidik, bersama-sama dengan pendidikan jasmaninya. Methode dan leergang, yakni caranya dan susunanya pengajaran adab harus selalu mengingati kodratnya dan alamnya anak-anak.

     

      Mendengarkan ceriteria yang berdasar keindahan (puisi) dan menarik hati anak-anak (kenyataan kenyataan jangan hanya diceritakan, tetapi diperlihatkan), cerita diambil dari daerah yang terdekat : anak-anak tidak usah hafal pada ceritanya, karena pelajaran ini tidak mendidik intellek, tetapi menuntun geraknya jiwa, yaitu asalkan anak-anak turut merasakan sudahlah cukup.

 

      Jika pendidikan adab menurut rancangan dimuka semua itu dapat dilakukan sebagai pokoknya pendidikan, sedangkan pengajaran pengetahuan dilakukan sambil lalu (jadi kebalikanya dari sistim sekarang), maka teranglah “intellektuallisme” dengan anak-anaknya “materialisme” dan “egoisme” tidak akan merajalela menghancurkan bahagianya masyarakat.

 

      Keterangan yang memuaskan kepada mereka yang mengesahkan dia menjadi pemegang kuasa atau pemimpin itu. Jikalau keterangan itu tidak memuaskan, maka orang yang “bertanggungjawab” itu harus menyerahkan dirinya. Lalu bolehlah ia kemudian dipecat dari kedudukanya sama sekali, ataupun diberi kedudukan lain : boleh jadi ia diberi maaf dengan perjanjian yang khusus dan sebagainya. Demikianlah artinya perkataan “pertanggungjawaban” serta caranya melakukan urusan “veraniwoordelijkheid” itu dalam umumnya.

 

      Sebaliknya badan-badan yang berkewajiban mengurus ketertiban didalam kalangan kita, wajib berani melakukan disiplin, dimana ketertiban kita terlanggar dengan terang-terangan, disitulah batasnya alam kekeluargaan. Janganlah orang mengira, bahwa dasar kekluargaan itu mengijinkan kita melanggar peraturan. Kekeluargaan adalah sikap kita terhadap mereka yang takluk kepada organisasi kita.

 

Pendidikan dan Kesusilaan.

Dalam hal ini pendidikan ialah segala usaha dari orang-tua terhaadap anak-anak dengan maskud menyokong kemajuan hidupnya, dalam arti untuk memperbaiki bertumbuhnya segala kekuatan rokhani dan jasmani, yanh ada pada anak-anak karena kadrat-kadratnya sendiri. Pendidikan sungguh besar pengaruhnya, tetapi tidak maha-kuasa terhadap hidupnya anak-anak ini terbatas oleh kodratnya atau pembawaannya masing-masing. Pendirian “ajar dan dasar”, tidak benarnya theori “tabula-rasa” perbandingan dengan bertumbuhnya tanaman, yang terbatas juga oleh kodratnya benih, biji serta keadaannya. Dalam melakukan pendidikan, bukan hanya guru saja melainkan tiap-tiap manusia, teristimewa kaum ibu, meskipun secara sederhana karena terdapat naluri mendidik, pada tiap-tiap manusia akan memperbaiki tuturannya. Naluri atau “instinct” yaitu kecakapan asli untuk melakukan segala tindak yang sangat perlu untuk mempertahankan hidup dan terdapat pada semua makhluk khewan dan manusia. Naluri mendidik pada khewan-khewan ada pula misalnya ayam mengajar anak-anaknya mencakar-cakar dan mencucuk. Dalam hal itulah bahwa pendidikan sifatnya yang paling sederhana ialah mengajarkan mencari makan untuk mempertahankan hidup serta mencari keselamatan. Karena tiap-tiap khewaan menpunyai cara sendiri yang sesuai dengan hidupnya sendiri serta segala keadaannya. Sedangkan bagi manusia yang mempunyai hidup lahir dan hidup batin, pendidikan itu tidak saja mengandung pengajaran mencari makan untuk keselamatan lahir, akan tetapi bersifat memajukan kehidupan batin pula agar mecapai hidup bahagia. Dan tidak hanya bersyarat “naluri” yang bersifat primitive itu, akan tetapi harus disadarkan pada “ilmu” sebagai buah dari “budi pekerti” manusia. Tujuan pendidikan ialah kesempurnaan hidup lahir batin sebagai satu-satunya untuk mencapai hidup selamat dan bahagia, baik sebagai satu-satunya orang (individu) maupun sebagai anggota masyarakat (sosial). Dalam pendidikan itu bermacam-macam menurut jenis-jenisnya aliran hidup didunia ini, baik yang bertali dengan agama maupun dengan pendirian lain-lainnya, begitulah ada pendidikan keagamaan, kebangsaan, kesenian, kemasyarakatan, yang masing-masingnya mempunyai warna sendiri. Salah satu jalan pendidikan yaitu mempergunakan cara memberi ilmu pengetahuan serta kapandaian dengan latihan-latihannya yang perlu dengan maksud memajukan kecerdasan fikiran (intellek) serta berkembangnya budi pekerti. Bangsa indonesia mulai dahulu kala telah mempunyai sistim pendidikan serta pengajaran, walaupun karena sangat terdesaknya oleh semangat colonialism Belanda, kini hanya Nampak sebagai baying-bayang yang suram atau terus hidup sebagai tradisi (adat), yang tak dapat memberi faedah yang cukup bagi masyarakat maupun kebudayaan kebangsaan. Adanya sistim pendidikan dan pengajaran dalam hidup kebangsaan kita dahulu dapat terbukti daripada adanya ceritera-ceritera, baik di dalam kitab-kitab kebangsaan, maupun di dalam pertunjukan wayang.  Pendidikan itu berkuasa untuk melenyapkan, memperbaiki atau mengubah tabuat-tabiat yang berdasar pada atau bertali dengan sifat angan-angan atau kemauan manusia, terdapat tabiat-tabiat yang asalnya dari hidup perasaan, pendidikan tidak dapat berbuat apa-apa selain menguatkan atau melemahkan, kadang-kadang seolah-olah menutupi tabiat-tabiat yang buruk. Lakunya pendidikan itu dalam umumnya dapat bersifat 3 macam ialah pembiaasan, pengajaran dan mempergunakan fikiran. Karena sudah kita ketahui bahwa setiap orang karena mempunyai “naluri” pendidikan, dapat melakukan pendidikan terhadap anak-anaknya tetapi untuk sempurnanya pendidikan maka “ilmu pendidikan” tak boleh ditinggalkan. Laku dan ilmu pendidikan itu dapat sokongan benar dari “ilham” manusia, yaitu pandangan batin, yang kadang-kadang timbul di dalam jiwa manusia tidak karena berfikir, melainkan timbul dengan sendiri (intuisi). Ilmu pendidikan dapat sokongan besar pula dari ilmu-ilmu lain yang nyata memberikan kemajuan serta kesempurnaan dalam segala soal pendidikan. Di dalam hal “laku pendidikan” termasuk juga syarat yang berat, tetapi perlu bagi orang-orang pendidik, yaitu mereka harus dapat menguasai diri sendiri (selfcommand), serta mengatru hidupnya untuk dapat dicontoh oleh orang-orang yang ada dibawah pimpinannya.

Kemerdekaan dan Kesusilaan

Sejak lahirnya NKRI maka “kemerdekaan” itu bukan lagi cerita, bukan semboyan atau persoaalan, akan tetpai terang-terang sesuatu kenyataan yang kita alami bersama. Banyak sepak terjang langkah-laku kita kerjaan sehari-hari, tidak degan pikiran, dan tidak dengan kesadaran semata-mata kita laksanakan seperti pesawat yang tidak berjiwa. Sudah menyalahi syarat kesusilaan yang mengharuskan manusia berfikir, sadar, insyaf. Maksudnya dari pada berhadapan dengan dengan kekuasaan yang paling luhur, paling suci, paling adil.

Dalam uraian saya hanya ingin membicarakan soal kemerdekaan dan kesusilaan, yang dalam waktu ini harus kita sadari benar-benar. Kemerdekaan adalah salah satu sifat dari pada hidup manusia yang serba luhur dan indah. Barangkali, tentu kita semua mnegerti bahwa “kesusilaan” tak lain artinya dari pada “keluhuran” dan “keindahan” hidup manusia. Luhur dan indah hidup manusia Nampak terang dan nyata, bila kita membandingkan hidup manusia dengan hidup hewan. Kemerdekaan hanya ada dalam hidup manusia yang bersusila, sesekali tidak Nampak. Kemerdekaan adalah sifat hidup manusia yang berbudaya. Kemerdekaan mempunyai dua sifat, yaitu lahirnya sifat “bebas” yakni lepas dari paksaan atau perintah orang lain. Sifat yang kedua yaitu sifat batinnya, “mandiri” yakni berdiri sendiri.

Sifat mandiri inilah sifat yang pokok, syarat yang mutlak, bagi tiap-tiap kemerdekaan. Babas dari paksaan atau perintah orang lain tak akan dapat langgeng atau abadi, kalua tidak berdasarkan atas kekuatan diri sendiri. Kebebasan adalah akibat dari kekuatan mandiri, tidak sebaliknya. Demikiaan lah arti perkataan merdeka yang sejati dapat berdiri sendiri dan bebas dari perintah paksaan pihak lain. Berdiri sendiri dalam soal kemerdekaan itu tidak hanya berarti berdiri yang tidak berdaya, berdiri asal berdiri, dalam arti yang sempit. Berdiri sendiri harus diartikan sebagai kegiatan berdiri karena kekuatan sendiri.

Ada pula syarat kemerdekaan yang mutlak, atau tuntunan terhadap siat kemerdekaan yang sejati. Manusia yang merdeka, yang merasa berhak dan wajib memerdekan dirinya, harus mengarhai serta menghormati kemerdekaan hidup manusia lainnya. Batasnya kemerdekaan diri untuk tiap-tiap manusia ialah kemerdekaannya manusia lain. Bahwa hidup merdeka itu hak dan kewajiban manusia sebagai makhluk yang lain bersusila, terdapat pula dalam ajaran agama dan pendirian ilmu filsafat. Manusi dilahirkan didunia ini dengan membawa atau dikarunia oelh Tuhan bekal-bekal hidup secukupnya, baik yang bersifat lahir maupun batin.

Senyari Bumi, Sedumuk Batuk, Dilakoni Taker Pati

Seorang angota polisi bukan anggota “tentara perang” yang berdiri dimuka front dan berhadapan dengan musuh. Ia adalah Seorang anggota “tentara keamanan” yang bediri di tengah-tengah rakyat, yang berhadapan dengan saudara-saudra sebangsa, dan berkewajiban memelihara keamanan. Jika perlu dia harus mengembalikan ketentraman yang terganggu, kadang-kadang dengan kekerasan, bahkan boleh jadi terpaksa bersiap dan bersedia untuk mengorbankan jiwanya, untuk keselamatan masyaraka. Tentara perang memusnahkan segala kekuatan musuh yang menyerbu, sebanyak-banyaknya, sebaliknya tentara keamanan menjaga, jangan sampai menimbulkan korban lebih banyak dari pada yang darurat, yang sangat perlu. Jangan Seorang polisi dalam hal ini semata-mata beerfikir “subjektif”, yakni hanya mementingkan pertimbangan-pertimbangan dan rasanya sendiri, serta pula hanya mengukur segala kejadian, pelangaran, dan kesejahtraan dengan ukurannya sendiri.

Salah satu adat istadat rakyat kita, yang perlu diketahui oleh sekalian polisi, ialah yang terkandung dalam peribahasa diatas, yang harus ditunjuk dengan kalimat “dilakoni taker pati”. Peribahas ini menunjukan pada kita, bahwa segala perselisihan atau pertikaian diantar rakyat kita, yang mengenai perebutan tanah, dan yang berhubungan dengan kesusilaan perempuan itu umumnya dianggap perkara besar. Kalau polisi kita dalam perkara yang sedemikian itu, misalnya juga tidak nampak mementingkan perkara tersebut dan tidak bertindak secara agak keras, maka pasti masyarakat akan sangat tidak puas, dan akibatnya akan kehilangan kepercayaan terhadap polisi.

Apakah adab dan kesusilaan itu?

Kita sebagai pamong berkewajiban mengajar dan mendidik. Mengajar berarti memberi ilmu pengetahuan, menuntun gerak fikir serta melatih kecakapn atau kepandaian anak-anak agar mereka kelak menjadi orang pintar dan pandai. Mendidik berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak-anak kita, supaya mereka kelak menjadi manusia berpribadi yang beradab dan bersusila.

Maka pengajaran-pengajaran yang termasuk dalam lingkungan adab dan kesusilaan, baik secara pandangan-pandagan terlepas, maupun berturut-turut secara kursus. Sebagai pemulaan maka dibawah ini memuat beberapa dalil tentang arti perkataan adab dan kesusilaan

1.     Meski sebenarnya perkataan adab dan kesusilaan sama tetapi, sebagai istilah perkataan adab itu bisa diartikan sebagai keluhuran budi manusia, sedangkan susila diartikan sebagai kehalusan budi manusia.

2.     Keluhuran dan kehalusan budi, ini adalah dua sifat yang yang nampak dalam hidup manusi sebagai makhluk yang terpilih, sebagai makhluk yang berbudi, memiliki kekuatan-kekuatan tertentu, dan sifat lainnya, yang menyebabkan bedanya manusia dan hewan.

3.     Adab atau keluhuran budi manusia itu menunjukkan sifat hidup batinnya manusia, sedangkan kesusilaan atau kehalusan itu menunjukkan sifat hidup lahirnya manusia.

4.     Pengajaran adab dan kesusilaan itu mempersoalkan dan mengajarkan segala sifat dan bentuk kebaikan dalam hidup manusia.

5.     Pengajaran adab dan kesusilaan mengajarkan juga segala hak dan kewajiban manusia, baik sebagi diri pribadi maupun sebagai anggota dari pada masyarakatnya.

 

Pengajaran dan Budi pekerti

1.     Maksud dan tujuan

Apakah isinya pengajaran Budi pekerti dan  bagaimana cara kita memberikannya? YaItu bawa pelajaran Budi pekerti sebaiknya diberikan secara spontan atau occasional oleh sekalian pamong, jadi menurut adanya kesempatan-kesempatan yang tiba-tiba tidak usah menurut “daftar pelajaran”tersendiri dan harus diberikan oleh tiap-tiap pamong baik ia mengajarkan bahasa ,sejarah , maupun ilmu alam, ilmu pasti, menggambar, dan lain sebagainya. memang betul tiap-tiap among keluaran taman guru kita atau sekolah guru lainnya juga mereka yang sudah tamat sekolah menengah atas maupun mereka yang berpendidikan luas dan dalam sudah selayaknya dianggap dapat memberi pelajaran kebaikan itu.

 

Guru diartikan sebagai orang yang harus karena itu lah hendaknya diinsafi bahwa pengajaran Budi pekerti tidak lain artinya menyokong perkembangan hidup anak lahir dan batin , menolong teman , hormat kepada bapak dan ibu guru dan orang tua. Dengan begitu syarat pendidikan Budi pekerti dapat terpenuhi. Itulah maksud dan tujuan pemberian pengajaran Budi pekerti yang dihubungkan dengan tingkatan perkembangan jiwa anak-anak. Ada baiknya jika perbandingan itu memperlihatkan tradisi dalam agama.

 

2.     Tingkatan-tingkatan psycologis-metodhis

 

 

Pengajaran tingkatan” syariat” kita pakai untuk anak-anak kecil dan harus kita artikan sebagai pembiasaan bertingkah laku serta berbuat menurut peraturan.karena anak-anak harus membiasakan segala apa yang baik,maka perlulah sipamong selalu menegur apabila anak-anak berbuat sesuatu yang tidak senonoh.

 

Pengajaran tingkatan” hakikat” yang berarti kenyataan atau kebenaran yang mengandung maksud agar mereka menjadi insaf atau sadar tentang segala kebaikan dan kebalikannya. Pengajaranini dipakai untuk anak-anak periode Akil baligh nyayakni Waktu berkembangnya akal atau kekuatan berfikir.

 

Pengajaran tingkatan menurut sistem pendidikan agama Islam “tarikat” yang dikenal sebagai tirakat yang berarti “laku”yakni perbuatan yang dengan sengaja kita lakukan dengan maksud supaya kita melatih melakukan kebaikan bagaimana sukarnya dan beratnya. Ini latihan bagi anak-anak yang mulai dewasa untuk memaksa diri menekan atau memerintah atau menguasai diri.

 

Setelah Melakukan 3 tingkatan menyusulah kini metodge makrifat yang berarti paham benar benar. Disini waktunya kita berusaha Supaya tidak memiliki sifat ragu-ragu maka mereka harus mengerti hubungan antara lahir dan kedamaian batin untuk menguasai diri sendiri. Kalau mereka masih salah pilih maks setidaknya mereka sudah berfikir secara bertanggung jawab sehingga tidak lah mereka terombang-ambing oleh pertentangan batin.

 

3.     Laku dan isi pengajaran

-Taman anak usia 5-8

Pengajaran berupa pembiasaan yang bersifat global ,yakni belum berupa teoriyang terbagi bagi menurut jenisnya. Pada tiap tiap peristiwa yang dapat menarik hendaknya sipamong memberikan koreksi.

-Taman muda usia 9-12

Dalam periode hakikat hendaknya anak diberi pengertian tentang segala tingkah laku kebaikan dalam sehari hari. Pada periode ini masih juga perlu melakukan pembiasaan seperti dalam periode syariat yg sudah mereka lakukan.

-Taman dewasa usia 14-16

Dalam periode ini anak meluruskan pencarian pengertian,mulai melatih diri.

-Taman madya usia 17-20

Memasuki periode makrifat yang berarti tingkatan kefahaman, yakni bisa melakukan kebaikan, menginsyafi ,serta menyadari akan maksud dan tujuan. Pengajaran tentang hukum kesusilaan jadi tidak hanya tentang dasar dasarnya yang bertalian dengan hidup kebangsaan,perkemanusian , keagamaan,filsafat,keilmuan , kenegaraan dan lainnya.

 

4.     Sumber- Sumber bahan pelajaran

Sesudah mengetahui isi pokok pengajaran Budi pekerti yaitu segala apa yang mengandung maksud memelihara keinsyafan dan kesadaran dalam hidub tertip damai bagi diri sendiri, masyarakat,dan lain lainnya, maka masih perlulah kita tahu akan bahan bahan yang dimasukan dalam isi .selain itu masih ada Sumber Sumber yang tidak boleh diabaikan yang terdapat dalam buku sastrawan disuruh dunia. Dengan segaja dikarang nya untuk menggambarkan berbagai karakter dalam laku disegala lingkungan atau lapangan hidup perkemanusian.

 

Kita harus dapat memilih apa yang patut diberikan kepada murid A a  didalam lingkungan taman siswa yang berjiwa kultural nasional ataupun yang dihubungkan dengan tingkatan kecerdasan jiwanya. Dalam lingkungan ketamansiswaan ini yang telah direncanakan oleh majelis luhur untuk mengumpulkan berbagai karangan karangan atau asas-asas hidup yang tercipta dalam pasca darma.

 

Dalam pusara karangan karangan baru agar memudahkan pencarian bahan-bahan pendidikan Budi pekerti pada umumnya atau khusus nya untuk menanam benih -benih ke Tamansiswaan dalam jiwa anak-anak.

 

 

Analisis Teknik Dier

Ki Hajar Dewantara : Ilmu Adab atau Etika

A.    Deskripsi:

Buku ini berisikan pendidikan taman siswa melalui ilmu adab, etika baik guru atau pamong dan orang tua terhadap peserta didik. Dengan semboyan Senyari Bumi, Sedumuk Batuk, Dilakoni Taker Pati; pendidikan yang berbasis merdeka, pembiasaan (untuk anak kecil) pengajaran dengan mempergunakan pikiran untuk anak besar berusia 7 tahun ke atas dan pendidikan budi pekerti dengan laku serta ilmu dengan peraturan disiplin atau selfdisiplin tanpa meninggalkan adat istiadat dari bangsa Indonesia sendiri. Seorang pendidik atau dalam istilah Ki Hajar Dewantara disebutkan dengan istilah pamong memiliki 2 kewajiban, bukan hanya mengajar namun juga mendidik. Dari mendidik ini lah peserta didik ditanamkan nilai kesusilaan, keluhuran, dan keindahan. Selain itu, juga ditanamkan sifat bebas dan mandiri.

 

Kekuatan Isi Buku :

Pembaca menemukan pemikiran dari Ki Hajar Dewantara mengenai tentang sikap seorang pendidik tidak hanya seorang guru atau pamong namun juga orang tua dalam memberikan pendidikan terhadap seorang anak memikirkan metode yang tepat untuk tahapan usia dan kematangan psikologis seorang anak dari dibawah usia 7 tahun hingga usia 21 tahun tidak hanya cara mengajar namun juga cara mendidik. Dengan semboyan Senyari Bumi, Sedumuk Batuk, Dilakoni Taker Pati Seorang pendidik bertindak sebagai polisi atau tentara yang menjaga keamanan dari wilayahnya tanpa melanggar peraturan dan etika.

Pembaca dapat mengilhami adap dan etika tidak hanya untuk guru namun juga berguna untuk orang tua atau calon orang tua bagaimana cara mendididik anak, dimana seorang anak di beri kebebasan sebebasnya asal tidak membahayakan anak.

 

 

 

Kekurangan Isi Buku  :

Sayang nya buku ini tidak ditulis langsung oleh Ki Hajar Dewantara, pembaca akan kurang langsung berbicara dengan penulis ditambah lagi dari segi bahasa sulit dipahami, karena masih ada beberapa bahasa atau istilah asing yang digunakan tanpa pengertian yang lebih jelas. Selain itu kurangnya penjelasan yang terhubung antara paragraf satu dengan paragraf lainnya.

 

B.    Interpretasi:

Berdasarkan isi ataupun deskripsi terkait pembahasan yang ada pada BAB VII ini terdapat beberapa hal ataupun isu-isu yang ada dalam pembahasan yaitu ilmu adab, etika baik guru atau pamong dan orang tua terhadap peserta didik. Dengan semboyan Senyari Bumi, Sedumuk Batuk, Dilakoni Taker Pati; pendidikan yang berbasis merdeka, pembiasaan (untuk anak kecil) pengajaran dengan mempergunakan pikiran untuk anak besar berusia 7 tahun ke atas dan pendidikan budi pekerti dengan laku serta ilmu dengan peraturan disiplin atau selfdisiplin tanpa meninggalkan adat istiadat dari bangsa Indonesia sendiri.

 

C.    Evaluasi:

Kami setuju jika pamong ataupun pendidik tidak hanya pengajar agar peserta didik tentang pintar secara akal namun juga mendidik sikap adap juga di perhatikan ketika membahas pembelajaran Ki Hajar Dewantara menyebut adab yaitu sifat ketertiban (taat) dalam hidup manusia, lahir dan batin, hingga hidup manusia itu terlihat berbeda dengan makhluk lainnya adab adalah ‘buahnya iradat hidup’. Kemudian, buahnya berbentuk ujud tertib, baik dan indah, yang keluar dari akal budi manusia disebut ‘buah keadaban’. Ketika sistem sekolah membuahkan adab yang ‘diktaktur intelek.’ Hal ini disebut sebagai bahaya sistem penalaran seperti materialisme, egoisme, kemunduran budi pekerti dan kurang memberi tuntutan hidup dalam rangka menolak diktatur intelek : intelektualisme tersebut munculah buah adab yang melahirkan diktator sistem sekolah. Dan sistem pengajaran sesat yang ditimbulkan karena merespon intelektualisme namun malah menghalangi jiwa merdeka.

 

D.    Rekomendasi:

Hal atau apa yang harus dilakukan untuk pendidikan sesuai dengan pembahasan yang ada yaitu ilmu adab, etika baik guru atau pamong dan orang tua terhadap peserta didik. Bahwasanya dalam pendidikan ini yang harus kita terapkan pada pendidikan sekarang dan masa yang adan datang adalah penerapan pada hal ilmu adab dan juga etika dengan berbasis merdeka, pembiasaan (untuk anak kecil) pengajaran dengan mempergunakan pikiran untuk anak besar berusia 7 tahun ke atas dan pendidikan budi pekerti dengan laku serta ilmu dengan peraturan disiplin atau selfdisiplin tanpa meninggalkan adat istiadat dari bangsa Indonesia sendiri. Karena pada era ini hal yang memeng dirasa kurang adalah dalam hal adab dan juga etika atau biasasnya disebut sebuah karakter dalam peserta didik, maka dari itu hal yang haru dilakukan dimasa sekarang dan masa yang akan datang adalah meningkatkan nilai-nilai ada serta etika yang ada yang dijelaskan pada pembahasan Ki Hajar Dewantara.

Komentar