Analisis Buku Paulo Freire
Kelompok 5
Nama : Mochammad Sulthon (19144600007)
Raditya Bagus Pamungkas (19144600011)
Husen Fakhsrusy Syakirin (19144600025)
Hendrik Pradana (19144600028)
Hanif Fareyza (19144600031)
Irfan Rahmawanto (20144600224)
Rangkuman dan Analisis (Teknik Dier)
Buku Paulo Freire
BAB II
Suatu analisis yang cermat dari hubungan guru dan murid pada tiap tahapan, yang terjadi di dalam dan di luar sekolah. Hubungan ini melibatkan subjek sebagai pencerita (guru) dan objek yang mendengarkan (murid). Isi pelajaran yang diceritakan menyangkut nilai dan dimensi empiris realitas, namun proses cerita cenderung tidak hidup dan kaku. Pendidikan menderita penyakit naratif.
Para guru berbicara tentang realitas yang seolah – olah tidak bergerak, statis, terbagi – bagi, dan mudah diprediksi. Sifat utama pendidikan naratif ini adalah keindahan kata – kata, bukan kekuatan pengubahnya. Narasi (dengan guru sebagai narator) ini membuat murid menghafal isi narasi. Buruknya lagi cara ini membuat murid menghafal isi narasi.
Pendidikan kemudian menjadi aktivitas seperti menabung, di mana murid berperan sebagai tempat untuk ditabung dan guru berperan sebagai penabung. Dalam konsep pendidikan gaya “bank”, pengetahuan adalah sebuah hadiah yang diberikan oleh mereka yang merasa dirinya berilmu kepada mereka yang dirasa tidak berilmu. Murid, yang terasingkan seperti budak dalam dialektika Hegel, menerima kebodohan yang di sematkan kepada mereka sebagai alat penegasan eksistensi guru.
Pendidikan harus dimulai dengan solusi dari pembedaan guru dan murid. Dengan mendamaikan kedua kutub pembedaan tersebut. Solusi seperti itu tidak ditemukan pada konsep pendidikan gaya “bank”. Sebaliknya, pendidikan gaya “bank” merawat dan merangsang tumbuhnya pembedaan di atas melalui sikap dan tindakan berikut, yang menjadi gambaran masyarakat tertindas secara keseluruhan :
a. Guru mengajar dan murid diajar;
b. Guru mengetahui segalanya dan murid tidak mengetahui apa – apa;
c. Guru berpikir dan murid dipikirkan;
d. Guru berbicara dan murid patuh mendengarkan;
e. Guru disiplin dan murid didisiplinkan;
f. Guru memilih dan memaksa pilihannya, dan murid menerima;
Tak mengejutkan jika konsep pendidikan gaya bank ini menganggap manusia sebagai makhluk yang mudah disesuaikan dan diatur. Kemampuan pendidikan gaya bank dalam meminimalisir dan mematikan kekuatan kreativitas murid serta kepercayaan diri mereka adalah apa yang dicari oleh kaum penindas, yang tidak peduli akan terungkapnya atau berubahnya dunia. Tujuan kaum penindas adalah “mengubah kesadaran kaum tertindas, bukan situasi yang menindas mereka”. Semakin mudah kaum tertindas diatur ke dalam situasi yang diinginkan kaum penindas, maka semakin mudah pula kaum penindas akan dapat menguasai.
Sesungguhnya yang benar adalah kaum tertindas bukan kaum “marjinal”, mereka bukan kaum yang tinggal “diluar” masyarakat. Perubahan tersebut akan mengancam tujuan kaum penindas, yaitu konsep pendidikan bank, sehingga mereka menghindari bahaya akibattimbulnya kesadaran murid.
Pendekatan gaya bank terhadap pendidikan orang dewasa tidak membuat para murid sadar secara kritis akan realitas. Mereka yang menggunakan pendekatan gaya bank, sadar atau tidak sadar ( karena ada banyak sekali guru yang tidak sadar bahwa mereka bekerja untuk melakukan dehumanisasi), tidak memahami bahwa pengetahuan yang mereka tanamkan itu kontradiktif dengan realitas. Namun cepat atau lambat, kontradiksi itu akan membuat murid yang tadinya pasif berubah dan menentang usaha penjinakan mereka serta berusaha untuk menjinakan realitas.
Tetapi bagi seorang humanis, bagi seorang pendidik yang rovolusioner, dia tidak akan dapat menunggu begitu saja kemungkinan itu terwujud. Upaya upaya tersebut harus dilandasi dengan keyakinan yang mendalam terhadap sesama manusia dan daya cipta mereka. Konsep gaya bank tidak akan mengakui hubungan seperti diatas. Untuk memecahkan masalah pembedaan guru dan murid, mengubah peran sebagai pemberi dan pengatur, agar menjadi murid diantara murid-murid, semua itu akan merusak kekuasaan dari penindasan dan menjadi alasan untuk melakukan pembebasan.
Dari pemahaman gaya bank mengenai kesadaran ini, peran pendidik adalah mangatur agar cara dunia “masuk kedalam” diri para murid. Tugas para guru untuk mengatur proses yang telah hadir secara spontan, untuk “memenuhi” murid dengan mengisi informasi yang mereka kira sudah mewakili ilmu pengetahuan. Individu yang terdidik adalah manusia yang sudah disesuaikan, karena mereka adalah “setelan” terbaik untuk dunia mereka.
Semakin lengkap kaum mayoritas bisa menyesuaikan diri dengan tujuan yang ditentukan oleh kaum minoritas dominan ( dengan demikian merampas hak kaum mayoritas untuk memiliki tujuan sendiri). Pendidik dengan gaya pegawai bank ini tidak menyadari bahwa tidak ada jaminan yang nyata dari peran yang berlebih ini, bahwa seseorang harus hidup bersama dengan orang lain, atau bahkan hidup bersama dengan muridnya saja. Solidaritas memerlukan komunikasi. Konsep gaya bank membuat sang pendidik menjadi takut dan manjauhi komunikasi. Hanya melalui komunikasi, hidup manusia bisa mendapatkan makna.
Semakin lengkap kaum mayoritas biasa menyesuaikan dengan tujuan yang ditentukan oleh kaum minoritas dominan, semakin mudah kaum minoritas dapat terus mengatur kaumnya. Teori dan praktik dari Pendidikan gaya bank ini menggunakan cara yang efisien. Pendidikan dengan gaya pegawai bank ini tidak menyadari bahwa tidak ada jaminan yang nyata dari perang yang berlebihan ini, bahwa seseorang harus hidup bersama dengan orang lain dalam solidaritas. Pemikiran sang guru harus dibuktikan dengan pembuktian yang ada pada pemikiran sang murid. Guru tidak bisa berpikir untuk muridnya, atau memaksakan pikirannya kepada muridnya. Jika benar bahwa pemikiran mendapatkan maknanya dari aksi yang dilakukan, maka murid tidak akan ditempatkan lebih rendah dari gurunya. Karena Pendidikan gaya bank dimulai dari pemahaman yang keliru dari manusia sebagai objek, Pendidikan gaya ini tidak bisa mendukung pengembangan apa yang form sebut dengan biofilia, namun malah menghasilkan lawannya yaitu nekrofili.
Pendidikan kontrol yang berlebihan adalah bentuk nekrofili, karena dipelihara oleh rasa cinta akan kematian, bukan kehidupan. Komsep Pendidikan gaya bank yang mengarah pada tujuan penindasan, juga merupakan nekrofili. Pandangan mekanis, statis,naturalis, dan spasialis akan kesadaran membuat penendisan mengubah murid menjadi objek yang menerima. Ketika usaha manusia untik bertindak penuh tanggung jawab gagal, ketika mereka tidak mampu menggunakan kemampuan yang mereka miliki, maka mereka akan menderita. Namun, ketidak mamuan untuk bertindak yang menyebabkan penderitaan juga menyebabkan mereka menolak ketidak mampuan ini dengan usaha mencoba.
Perwujudan populis mungkin menjadi contoh paling baik dari jenis perilaku kaum tertindas yang merasa aktif dan efektif. Pemberontakan yang mereka tunjukkan saat mereka muncul dalam proses historis ini termotivasi oleh keiginan untuk bertindak secara efektif. Kaum elit yang berkuasa sadar bahwa obat untuk lebih bisa mendominasi dan menekan adalah dengan mengatasnamaknan kebebasan, tatanan dan kedamaian sosial.
Pendidikan sebagai bentuk dominasi memicu rasa mudah percaya dari murid, dengan maksud ideologi untuk menanamkan doktrin yang menyesuaikan diri dengan dunia penindas. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian humanis sejati akan kenyataan bahwa mereka tidak bisa menggunakan metode pendidikan gaya bank dalam menuntut kebebasan. Masyarakat revolusioner yang melakukan praktik pendidikan gaya bank telah salah arah atau salah percaya kepada orang.Praktik pendidikan ini diambil karena takut akan momok ancaman reaksi masyarakat. Mereka yang mendukung penyebab kebebasan adalah mereka yang dikelilingi dan dipengaruhi oleh iklim konsep pendidikan gaya bank dan kadang mereka tidak merasakan arti sesungguhnya dari pendidikan gaya bank tersebut maupun kekuatan dehumanisasinya. Sebaliknya, mereka menggunakan instrumen pengasingan yang sama ini untuk apa yang mereka sebut dengan usaha pembebasan. Kebebasan yang terpuji proses humanisasi bukanlah seperti simpanan dalam bentuk lain yang ada dalam diri manusia. Pembebasan adalah sebuah praksi, aksi dan refleksi dari manusia akan dunianya dengan tujuan untuk mengubahnya.
Mereka yang benar-benar ingin mengusahakan kebebasan harus menolak konsep gaya bank secara keseluruan, lalu menggunakan konsep manusia sebagai makhluk hidup yang sadar. Mereka harus meninggalkan tujuan pendidikan yang membuat murid sebagai tempat untuk menabung pengetahuan dan menggantinnya dengan menghadapkan murid dengan masalah umat manusia dalam hubungannya dengan pendidikan ”hadap-masalah” menanggapi esensi dari kesadaran dan menolak pernyataan-pernyataan dengan memasukkan komunikasi. Pendidikan yang membebaskan terdiri dari tindakan pemahaman (acts of cognition), bukan sekedar pemindahan informasi. Pendidikan ini adalah situasi pembelajaran di mana objek yang dipahami menghubungkan pelaku pemahaman guru di satu sisi dan murid di sisi lain. oleh karena itu pendidikan hadap-masalah berusaha memecahkan pembedaan antara guru dan murid. Sesungguhnya pendidikan hadap-masalah, yang menolak karakter pola vertikal dari pendidikan gaya bank, dapat memenuhi fungsinya sebagai praktik pembebasan jika pendidikan ini dapat mengatasi pembedaan guru dan murid. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang mengajar, tapi juga menjadi orang yang mengajar dirinya sendiri melalui dialog dengan murid, yang pada gilirannya selain diajar juga mengajar. Konsep gaya bank (yang cenderung bertujuan untuk mendikotomikan segala hal) membedakan dua tahapan dalam aksi sang guru. Pada tahap pertama, sang guru memahami objek yang harus dipahami sambal menyiapkan pelajaran dalam kajian maupun laboratoriumnya; pada tahap kedua sang guru memberikan objek tersebut kepada murid, sang murid tidak diminta untuk mengetahui, namun untuk mengingat isi yang diceritakan oleh sang guru.
Metode hadap-masalah tidak melakukan dikotomi pada aktivitas guru murid, guru tidak “memahami” pad satu sisi dan “menceritakan” pada sisi yang lain. Guru selalu “memahami”, saat menyiapkan projek maupun saat terlibat dialog denga murid. Guru tidak menganggap objek yang dipahami sebagai kepunyaanya sendiri melainkan sebagai objek refleksi bagi dirinya dan muridnya. Pendidikan yang menggunakan metode hadap-masalah selalu membaharui refleksinya seiring dengan refleksi dari sang murid. Peran dari pendidik yang memakai metode hadap-masalah adalah menciptakan bersama dengan murid, kondisi di mana pengetahuan pada tahap mentera (doxa) diganti dengan pengetahuan sejati pada tahap ilmu (logos). Saat ini gaya bank membius dan melarang kreativitas, pendidikan hadap-masalah terus menerus menyikap realitas. Pendidikan gaya bank mencoba mempertahankan tenggelamnya kesadaran. Pendidikan hadap-masalah mencoba menghadirkan kesadaran dan campur tangan kritis dalam realitas. Pendidikan sebagai praktik kebebasan sebaimana lawannya, yaitu pendidikan sebagai praktik dominasi menolak kehadiran manusia sebaagai makhluk hidup yang abstrak, terisolasi, bisa hidup sendiri, dan tidak terkekang dunia, juga menolak bahwa dunia muncul sebagai realitas yang terpisah dari manusia.
Dalam pendidikan hadap-masalah, manusia mengembangkan kemampuan mereka untuk merasakan secara kritis cara mereka hadir di dunia yang dengannya dan di dalamnya mereka bisa menemukan diri sendiri, mereka hadir untuk melihatb dunia tidak hanya sebagai realitas yang statis, namun juga sebagai sebuat realitas dalam sebuah proses perubahan. Dua konsep dan praktik pendidikan yang telah dianalisa kembali saling bertentangan satu dengan lainnya. Pendidikan gaya bank (untuk alasan yang nyata) mencoba untuk menutupi fakta tertentu yang menjelaskan cara umat manusia hadir di dunia dengan menggunakan mitos, pendidikan hadap-masalah tidak melihat hal itu sebagai mitos, pendidikan gaya bank menolak dialog.
Dalam pendidikan manusia mengembangkan kemampuan mereka untuk merasakan secara kritis cara mereka hadir di dunia, yang di dalamnya mereka bisa menemukan diri sendiri. Mereka hadir tidak hanya sebagai realitas yang statis namun juga sebuah realitas dalam proses perubahan. Cara ini dapat dirasakan , bentuk aksi, dan bagaimana mereka melihat dirinya sendiri. Dengan demikian guru murid dan murid guru secara bersama-sama merefleksikan diri mereka sendiri tentang dunia tanpa melakukan dikotomi antara refleksi ini dengan aksi mereka dan kemudian mengembangkan sebuah bentuk asli dari pemikiran dan aksi.
Konsep dan pendidikan yang telah dianalisa diatas saling bertentangan satu dengan lainnya. Pendidikan gaya bank (untuk alasan nyata) mencoba untuk menutupi fakta tertentu yang menjelaskan manusia hadir dengan menggunakan mitos. Pendidikan gaya bank memperlakukan murid sebagai objek yang harus di tolong pendidikan adab masalah membuat murid menjadi pemikir yang kritis. pendidikan gaya bank menolak kreativitas dan intensionalitas dari kesadaran dengan mengisolasi kesadaran tersebut dari dunia dengan demikian akan menolak manusia dari fitnah ontologis dan historis untuk menjadi manusia yang lengkap. Kesimpulannya teori dan praktik gaya bank sebagai kekuatan untuk menggabungkan dan menekan manusia sebagai makhluk hidup yang memiliki sejarah, sedangkan teori dan praktik pendidikan hadap masalah menjadikan sejarah manusia sebagai titik awal.
Pendidikan ada masalah melihat manusia sebagai makhluk yang berada dalam proses menjadi makhluk yang belum selesai dan belum lengkap dalam dengan realitas yang belum lengkap juga. Dalam kelengkapan dan kesadaran ini ada dasar dari pendidikan yang menjadi manifestasi eksklusif manusia. karakter yang belum selesai dari manusia dan realitas yang terus berubah membuat pendidikan sebagai sebuah aktivitas yang terus berjalan. Pendidikan harus selalu diperbaharui melalui praksis untuk menjadi ada pendidikan harus menjadi lamanya (dalam arti kata oleh bangsonian) terletak pada pengaruh dari pendidikan yang permanen dan pendidikan yang berubah. Metode gaya bank menekankan pada hal-hal yang permanen dan oleh karena itu menjadi reaksioner sedangkan pendidikan hadap masalah yang tidak menerima masa kini atau masa depan yang telah ditentukan berakar pada masa kini yang dinamis dan menjadi revolusioner.
Pendidikan pendidikan hadap masalah adalah masa depan yang revolusioner . Dengan demikian pendidikan ini bersifat profetik tulisan ini berhubungan dengan alam historis dari manusia yang membuat manusia dilihat sebagai makhluk yang menaikkan diri mereka sendiri yang bergerak maju dan menatap kedepan . Manusia yang ketidak dayaan nya adalah ancaman yang batal dan melihat masa lalu sebagai satu alat untuk mengerti dengan jelas apa dan siapa mereka sehingga mereka dapat membangun masa depan yang lebih bijak.
Titik awal dari pergerakan ini berada pada manusia itu sendiri. Namun karena manusia tidak hadir terpisah dari dunia dan realitas pergerakan harus dimulai dari hubungan manusia dunia oleh karena itu ,awal harus berada pada situasi manusia yang berhati situasi di mana mereka hanya bisa bergerak.
Metode gaya bank secara langsung maupun tidak langsung mengeluarkan persepsi fatalistik dari situasi manusia sedangkan metode hadap masalah menghadirkan situasi tersebut sebagai sebuah masalah saat situasi menjadi objek dari pemahaman mereka persepsi yang naif dan magis yang menghasilkan fatalisme akan memberi jalan kepada persepsi yang mampu melihat diri sendiri bahkan saat melihat realitas sehingga dapat menjadi objek yang kritis dari realitas tersebut.
Kesadaran mendalam akan situasi mereka membuat manusia memahami situasi ini sebagai sebuah realitas historis yang rentan untuk diubah jika manusia sebagai makhluk hidup yang historis bersatu dengan manusia lainnya dalam sebuah pergerakan pencarian dan tidak mengontrol gerakan tersebut maka itu akan menjadi pelanggaran terhadap kemanusiaan. Pergerakan kan pencarian ini harus mengarah pada kemanusiaan Fakta historis manusia pencarian untuk menjadi manusia yang lengkap tidak dapat dilakukan dengan pembatasan atau individualitas namun hanya dengan persahabatan dan solidaritas oleh karena itu pencarian ini tidak akan bisa membuka hubungan antagonis antara kaum penindas dan kaum tertindas.
Pendidikan ada masalah sebagai sebuah praksis yang humanis dan membebaskan menempatkan sebuah dasar bahwa manusia yang terkena dominasi harus berjuang untuk emansipasi mereka. Pendidikan hadap masalah juga membuat manusia bisa mengatasi persepsi mereka yang keliru akan realitas, dunia tidak lagi berupa sesuatu yang bisa digambarkan dengan kata yang menipu menjadi objek dari perubahan yang dilakukan oleh manusia yang menginginkan kemanusiaan.
Pendidikan Tidak masalah Tidak dapat melayani keinginan kaum penindas, sementara hanya masyarakat revolusioner yang dapat membawa pendidikan secara sistematik sehingga pemimpin revolusioner tidak perlu memegang kekuasaan tertinggi. Berita harus revolusioner artinya secara dialogis sejak dari awal.
Analisis teknik DIER:
1. Deskripsi
Pada buku Paulo Freire ini kita membahas pada BAB II terkait dengan konsep pendidikan “gaya bank” sebagai alat penindasan serta konsep pendidikan hadap-masalah sebagai sebuah alat pembebasan. Konsep “gaya bank” dan perbedaan guru murid serta konsep hadap-masalah dan penggantian perbedaan guru murid, pendidikan, proses timbal balik, dunia sebagai perantara, manusia sebagai mahluk tidak sempurna yang sadar akan ketidak lengkapan mereka, dan cara mereka untuk menjadi manusia yang lengkap. Pendidikan kemudian menjadi aktivitas seperti menabung, di mana murid berperan sebagai tempat untuk ditabung dan guru berperan sebagai penabung. pendidikan hadap-masalah berusaha memecahkan pembedaan antara guru dan murid. Sesungguhnya pendidikan hadap-masalah, yang menolak karakter pola vertikal dari pendidikan gaya bank, dapat memenuhi fungsinya sebagai praktik pembebasan jika pendidikan ini dapat mengatasi pembedaan guru dan murid. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang mengajar, tapi juga menjadi orang yang mengajar dirinya sendiri melalui dialog dengan murid, yang pada gilirannya selain diajar juga mengajar.
2. Interpretasi
Terkait gaya bank serta hadap masalah sebenarnya apabila dilihat dari pengertian kedua hal tersebut terdapat sebuah pertentangan yang ada dimana gaya bank sebagai alat penindasan serta konsep seperti menabung, di mana murid berperan sebagai tempat untuk ditabung dan guru berperan sebagai penabung. Sedangkan hadap masalah bertentangan dengan hal itu yang menolak karakter pola vertikal dari pendidikan gaya bank yang membebaskan. Artinya pada hal ini menurut pandangan kami bahwa konsep hadap masalah yang lebih baik untuk kemajuan sebuah pendidikan karena disini antara pendidik dan peserta didik saling berdialok.
3. Evaluasi
Dilihat dari pembahasan terkait gaya bank dan hadap masalah ada hal yang setuju serta tidak, hal yang setuju bahwasanya hadap masalah bisa digunakan sebagai metode perkembangan pendidikan karena bertentangan dengan hal itu yang menolak karakter pola vertikal dari pendidikan gaya bank. Sedangkan gaya bank kurang setuju dikarenakan sebagai alat penindasan serta konsep seperti menabung, di mana murid berperan sebagai tempat untuk ditabung dan guru berperan sebagai penabung. Paulo Freire, seorang pakar pendidikan ternama Brazil di dalam tulisannya “Pendidikan Kaum Tertindas” menamakan konsep teacher oriented ini dengan istilah pembelajaran gaya bank. Karena posisi guru yang mengajar layaknya seperti nasabah yang menabung uang ke bank dimana peserta didik menjadi pihak bank yang menerima tabungan ilmu dari sang guru. Uang dimasukkan ke bank dan menghasilkan bunga. Guru mengajar, murid belajar, guru menerangkan dan murid mendengarkan. Guru bertanya dan murid menjawab. Konsep tersebut tidak manusiawi (Paulo Freire:1972). Sistem “hadap-masalah” adalah tawaran pemikiran Paulo Freire untuk membangkitkan kesadaran masyarakat yang bisu akibat model pendidikan “gaya bank” di Brasilia. Apabila dilihat dari kedua pendapat ahlitersebut lebih baik hadap masalah yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat yang bisu akibat gaya bank.
4. Rekomendasi
Yang harus kita lakukan terkain gaya bank serta hadap masalah ini bahwasanya dimasa ini dan juga untuk masa yang akan datang kita tidak boleh terapkan metode gaya bank yang dimana guru sebagai penabung dan peserta didik sebagai tempat menabung dan disini peserta didik hanya vertikal mendapatkan ilmu dari seorang pendidik. Maka dari itu yang harus kita lakukan adalah dengan metode hadap masalah dimana kita sebagai calon pendidik harus bisa mengajak peserta didik dalam berdialok dimana metode hadap masalah untuk membangkitkan kesadaran masyarakat yang bisu akibat model pendidikan “gaya bank”.
Komentar
Posting Komentar